Eksklusif-nya Air Susu Ibu

Pengertian dan Dasar Hukum terkait Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

Eksklusif menurut kamus bahasa Indonesia mempunyai arti “khusus atau terpisah dari yang lain”. Dan kebanyakan dari kita pantas setuju dengan ekslusif-nya Air Susu Ibu bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dan kita juga menjadi sangat pantas untuk apreciated terhadap berbagai gerakan terkait pemberian ASI eksklusif pada anak yang mulai menyeruak (kembali) di sekitar kita.

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi,  dengan rekomendasi periode pemberian ASI yaitu sejak lahir sampai bayi berumur dua tahun, tetapi tidak semua bayi dapat disusui selama periode tersebut.  Data menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif di Indonesia hanya 15,3 % (Riskesdas, 2010). Salah satu penyebab utama rendahnya pemberian ASI di Indonesia selain faktor sosial budaya, juga masih kurangnya pengetahuqn ibu hamil, keluarga, dan masyarakat.
Beberapa dasar hukum yang digunakan terkait ASI di Indonesia antara lain :

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif
  3. Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan Nomor 48/MEN.PP/XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008, dan  1177/MENKES/PB/XII/2008 Tahun 2008 Tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja

Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, terkait ASI terdapat pada pasal 128, pasal 129, pasal 200, dan pasal 201.
Antara lain pada Pasal 128, memuat :

  • (1) Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis.
  • (2) Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.
  • (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.
Sementara pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif, antara lain disebutkan bahwa Pengaturan pemberian ASI Eksklusif (sesuai PP ini) bertujuan untuk (Pasal 2) :
  • a.    menjamin pemenuhan hak Bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan berusia 6 (enam) bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya;
  • b.    memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya; dan
  • c.    meningkatkan peran dan dukungan Keluarga, masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif.
Sedangkan sesuai Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan Nomor 48/MEN.PP/XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008, dan  1177/MENKES/PB/XII/2008 Tahun 2008 Tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja Di Tempat Kerja, Tujuan Peraturan Bersama ini adalah (Pasal 2) :
  • a.    memberi kesempatan kepada pekerja/buruh perempuan untuk memberikan atau memerah ASI selama waktu kerja dan menyimpan ASI perah untuk diberikan kepada anaknya;
  • b.    memenuhi hak pekerja/buruh perempuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anaknya;
  • c.    memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI guna meningkatkan gizi dan kekebalan anak; dan
  • d.    meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Secara global sesuai definisi WHO (2006), pengertian ASI Eksklusif adalah bahwa bayi hanya menerima ASI dari ibu, tanpa penambahan cairan atau makanan padat lain, kecuali sirup yang berisi vitamin, suplemen mineral atau obat dari sejak lahir sampai usia enam bulan.

Sementara Riskesdas 2010, membagi pola menyusui menjadi tiga kategori, yaitu menyusui eksklusif, menyusui predominan, dan menyusui parsial. Sesuai definisi World Health Organization (WHO) ke-tiga katagori terebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menyusui eksklusif: adalah tidak memberi bayi makanan  atau minuman lain, termasuk air putih, selain menyusui (kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral tetes; ASI perah juga diperbolehkan).

Menyusui predominan adalah menyusui bayi tetapi pernah , memberikan sedikit air atau minuman berbasis air, misalnya teh, sebagai makanan/ minuman prelakteal sebelum ASI keluar.

Menyusui parsial adalah menyusui bayi serta diberikan makanan buatan selain ASI, baik susu formula, bubur atau makanan lainnya sebelum bayi berumur enam bulan, baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelakteal.

Kita sepakat, bahwa pemberian ASI pada bayi berkontribusi signifikan pada peningkatan status gizi. Sebagaimana kita ketahui, banyak faktor yang dapat mempengaruhi status gizi bayi, seperti tingkat pendidikan ibu sehingga berpengaruh pada pola asuh bayi, status gizi ibu saat hamil dan meyusui, penyakit infeksi yang diderita bayi. Sementara faktor langsung berpengaruh pada status gizi bayi adalah intake berupa ASI dan makanan pendamping ASI.

Menyusui sejak dini mempunyai dampak positif baik bagi ibu maupun bayinya. Bagi bayi, menyusui mempunyai peran penting yang fundamental pada kelangsungan hidup bayi, kolostrum yang kaya dengan zat antibodi, pertumbuhan yang baik, kesehatan, dan gizi bayi. Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas bayi dan balita, Inisiasi menyusu dini mempunyai peran penting bagi ibu dalam merangsang kontraksi uterus sehingga mengurangi perdarahan pasca melahirkan (postpartum). Menyusui dalam jangka panjang dapat memperpanjang jarak kelahiran karena masa amenorhoe lebih panjang, pemulihan status gizi yang lebih baik sebelum kehamilan berikutnya. UNICEF dan WHO membuat rekomendasi pada ibu untuk menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayinya. Sesudah usia 6 bulan bayi baru dapat diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan tetap memberikan ASI sampai minimal umur 2 tahun. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan juga merekomendasi kepada ibu untuk menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayi nya (Riskesdas, 2010).

Beberapa penelitian menunjukkan, pemberian ASI Eksklusif dapat memberikan efek positif terhadap pertumbuhan bayi. Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh, termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut (Widodo, et a!, (2005).

ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi selama enam bulan pertama. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi menghindarkan dari kematian bayi yang disebabkan oleh penyakit anak seperti diare dan pneumonia, mempercepat penyembuhan selama sakit.

Menyusui adalah gold standard untuk nutrisi dan pertumbuhan bayi. Beberapa nilai positif pada bayi dari praktek menyusui dibandingkan makanan formula bayi antara lain: memiliki tingkat stres lebih rendah terhadap makanan; lebih mudah dalam mencerna makanan sehingga menghindarkan kejadian penyakit infeksi dan penyakit kronik; menurunkan risiko kematian bayi; meningkatkan perkembangan syaraf.

Banyak manfaat didapatkan dari ASI dan ASI eksklusif, diantaranya sebagai sumber nutrisi dan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kecerdasan.

Sebagai Nutrisi, komposisi ASI berbeda pada tiap ibu sesuai karakteristik bayi yang dilahirkan, bahkan dalam perkembangan hari perhari.  Misalnya komposisi akan berbeda pada stadium kolostrum, pada ASI transisi, dan ASI matang.  Bahkan terdapat pula perbedaan komposisi ASI dari menit ke menit (foremilk dan hindmilk).

Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi seimbang yang menyesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan bayi paling sempurna (kualitas maupun kuantitas). Dengan tatalaksana menyusui yang benar, ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh bayi normal sampai usia 6 bulan.

ASI juga berperan penting dalam peningkatan daya tahan tubuh. Sebagaimana kita ketahui, bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat imunoglobulin ibunya.  Kadar zat ini cepat menurun setelah kelahiran, shingga penting untuk memastiakan peran ASI sebagai cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, parasit, dan jamur, pada tahap ini. Sementara bayi sendiri baru membuat zat kekebalan yang cukup protektif pada usia sekitar 9 sampai 12 bulan.

Berdasarkan penelitian, kolostrum mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matang (mature). Zat kekebalan yang terdapat pada ASI antara lain akan melindungi bayi dari diare, juga akan menurunkan resiko bayi mendapatkan penyakit infeksi telinga, batuk, pilek, dan penyakit alergi.

ASI juga berperan penting dalam peningkatan tingkat kecerdasan. Menurut Roesli (2000), tiga hal yang didapatkan bayi dari ASI mencakup Asah, Asih dan Asuh. Asah, menunjukan kebutuhan akan stimulasi atau rangsangan yang akan merangsang perkembangan kecerdasan anak secara optimal. Ibu yang menyusui merupakan guru pertama yang terbaik bagi bayinya. Seringnya bayi menyusu membuatnya terbiasa berhubungan dengan manusia lain dan dalam hal ini dengan ibunya. Dengan demikian, perkembangan sosialisasinya akan baik dan ia akan mudah berinteraksi dengan lingkunganya kelak. ASI Eksklusif memenuhi kebutuhan awal untuk ini

Asuh, menunjukan kebutuhan bayi untuk pertumbuhan otaknya. Untuk pertumbuhan suatu jaringan, sangat dibutuhkan nutrisi atau makanan yang bergizi, dan ASI memenuhi kebutuhan ini. Sedangkan Asih, menunjukan kebutuhan bayi untuk perkembangan emosi dan spiritualnya. Hal yang penting di sini adalah pemberian kasih sayang dan perasaan aman. Seorang anak yang merasa disayangi akan mampu menyayangi lingkungannya sehingga ia akan berkembang menjadi manusia dengan budi pekerti dan nurani yang baik. Selain itu, seorang bayi yang merasa aman, karena merasa dilindungi, akan berkembang menjadi orang dewasa yang mandiri dengan emosi yang stabil. ASI Eksklusif memenuhi kebutuhan awal untuk hal ini.

Secara lebih detail, berikut beberapa kandungan air susu ibu (dari berbagai sumber).

  • ASI mengandung protein (9mg/ml). Jenis protein yang dikandung ASI adalah whey, casein, alfa-laktabulmin, taurin, laktoferin, IgA dan lisozim. ASI dan susu sapi mengandung dua protein utama yaitu whey dan casein. Whey adalah protein halus, lembut dan mudah dicerna, sedangkan casein adalah protein kasar, bergumpal dan susah dicerna oeh usus bayi.
  • Protein utama ASI adalah whey sedangkan protein utama susu sapi adalah casein sehingga protein ASI lebih baik daripada protein susu sapi. ASI mengandung lemak (42 mg/ml) yang paling cocok untuk bayi dalam jumlah yang tepat. Lemak utama ASI adalah lemak ikatan rangkai panjang (omega-3, omega-6, DHA, arachidonic acid) suatu asam lemak essensial yang merupakan komponen penting untuk mylinisasi. Mylinisasi adalah pembentukan selaput isolasi yang mengelilingi serabut syaraf yang akan membantu rangsangan yang menjalar lebih cepat. Selain itu komponen lemak yang lain adalah kolesterol. Kandungan kolesterol dalam ASI tinggi guna meningkatkan pertumbuhan otak bayi. Kolesterol juga berfungsi dalam pembentukan anzim yang akan mengendalikan kolesterol di kemudian hari, sehingga mencegah serangan jantung dan penebalan pembuluh darah di usia muda.
  • ASI mengandung lebih banyak laktosa (73 mg/ml) daripada susu lainnya. ASI mengandung vitamin yang cukup sehingga selama 6 bulan pertama bayi tidak memerlukan vitamin tambahan.
  • ASI mengandung zat besi (40 ug/ml) yang dapat diserap usus dengan baik sehingga bayi yang disusui tidak akan menderita anemia.
  • ASI mengandung garam, kalsium, dan fosfat yang untuk pertumbuhan tulang bayi.
Pustaka, antara lain :
  • Roesli, U. 2000. Mengenal ASI Eksklusif, Jakarta : Trubus Agriwidya. 2-7.
  • Pamela J. et al. 2009. Excessive Weight Loss in Breastfed Infants During the Postpartum Hospitalization. JOGNN
  • Laporan Riskesdas 2010.
  • Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC-Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Universitas Airlangga Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Weight Loss Diet

New Mobile Info

info-ponselhp photo InfoHOFlash_zpsc6939bc5.gif

Update Kesmas Lainclose