Dampak Logam Berat pada Kesehatan

Logam-Logam Berat dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan

Logam berat ialah unsur logam dengan berat molekul tinggi. Dalam kadar rendah logam berat pada umumnya sudah beracun bagi tumbuhan dan hewan, termasuk manusia. Termasuk logam berat yang sering mencemari habitat ialah Hg, Cr, Cd, As, dan Pb. Logam berat merupakan komponen alami tanah. Elemen ini tidak dapat didegradasi maupun dihancurkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, air minum, atau udara. Logam berat seperti tembaga, selenium, atau seng dibutuhkan tubuh manusia untuk membantu kinerja metabolisme tubuh. Akan tetapi, dapat berpotensi menjadi racun jika konsentrasi dalam tubuh berlebih. Logam berat menjadi berbahaya disebabkan sistem bioakumulasi, yaitu peningkatan konsentrasi unsur kimia didalam tubuh mahluk hidup.

Secara keseluruhan terdapat 109 unsur kimia yang terdiri dari 80 jenis logam berat. Menurut logam berat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu logam berat esensial dan logam berat yang tidak esensial. Di bawah ini adalah beberapa logam berat yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia (Widowati et.al., 2008).

Arsen (As)
As sebagai mikronutrien dibutuhkan oleh makhluk hidup, tetapi penggunaan dalam dosis besar bersifat toksik. As bersifat karsinogenik, mutagenik dan teratogenik. Paparan peroral bisa meningkatkan risiko kanker kulit, paru-paru, empedu, hati, ginjal dan prostat, sedangkan melalui inhalasi bisa menyebabkan kanker paru-paru. Toksisitas nonkanker dari As meliputi penebalan kulit, diskolorasi kulit, sakit lambung, muntah, diare, mati rasa pada tangan dan kaki, paralisis parsial serta kebutaan.

Berilium ( Be)
Be bersifat toksik pada manusia melalui paparan inhalasi, kontak kulit, kontak mata, dan melalui makanan dan minuman (peroral). Paparan Be Per oral mengakibatkan toksisitas lebih rendah dibandingkan inhalasi. Paparan per oral mengakibatkan sebagian Be tidak diabsorpsi dan diekskresi melalui feses. Paparan inhalasi Be bersifat akut, subkronik, dan kronik. Efek toksik akut berupa pneumonitis atau granuloma paru-paru. Target toksisitas paparan subkronik Be adalah system pernapasan, sedangkan efek inhalasi kronis berupa beriliosis kronis, dengan gejala batuk, gangguan pernapasan dan penurunan berat badan, cepat lelah, kesulitan bernapas, dan kelelahan. Paparan Be lewat kulit bisa mengakibatkan peradangan kulit, gatal-gatal, kemerahan, pembengkakan kulit, dan kulit bernanah. Be juga bersifat karsinogenik terutama kanker paru-paru.

Kromium (Cr)
Kromium (Cr) adalah logam berat melimpah yang terdapat di alam dengan bentuk oksida, yaitu (Cr(0),Cr(III), dan Cr(IV). Cr(III) merupakan mikronutrien bagi makhluk hidup yang terlibat dalam produksi insulin, menghasilkan energy dari glukosa, metabolisme karbohidrat, kofaktor insulin, tetapi bersifat toksik dalam dosis besar. Defesiensi Cr(III) bisa mengganggu metabolism glukosa, lemak, dan protein serta mengganggu pertumbuhan.Cr(IV) bersifat karsinogenik terhadap alat pernafasan, dan toksik terhadap kulit, mata, alat pernapasan, alat pencernaan serta bisa ditransfer ke embrio melalui plasenta.

Merkuri (Hg)
Bentuk Hg yang masuk kedalam lingkungan diantaranya:

  1. Hg anorganik yang berasal dari air hujan atau aliran sungai dan bersifat stabil pada pH rendah. Senyawa Hg anorganik, seperti Hg (NO3)2, HgCl2 dan HGO akan diakumulasi pada organ hati, ginjal dan otak. Toksisitas Hg anorganik meliputi gangguan sistem syaraf, antara lain berupa tremor, gigi tidak kuat dan rontok, anemia, albuminuria, dan gejala lain yang berupa kerusakan ginjal dan kerusakan mukosa usus.
  2. Hg organik antara lain fenil merkuri (C6H5-Hg), metal merkuri (CH3-Hg) yang bisa berasal dari pertanian yaitu pestisida. Toksisitas merkuri organik meliputi kerusakan sistem syaraf pusat berupa anoreksia, ataksia, dismetria, gangguan pandangan mata, kebutaan, gangguan pendengaran konvulsi, degenerasi dan nekrosis, neuron serta koma dan kematian.

Nikel (Ni)
Ni bagi manusia merupakan kofaktor yang membantu metabolisme. Tingginya kadar Ni dalam jaringan tubuh manusia bisa mengakibatkan munculnya berbagai efek, yaitu akumulasi Ni pada kelenjar pituitari mengakibatkan depresi sehingga mengurangi sekresi hormone prolaktin I bawah normal. Akumulasi Ni pada pancreas bisa menghambat sekresi hormon insulin.

Kobalt (Co)
Co merupakan nutrisi esensial, yang merupakan bagian dari vitamin B12 yang berfungsi memproduksi sel darah merah. Paparan kronis Co secara inhalasi bisa menimbulkan pneumoconiosis, yang ditandai oleh batuk-batuk, sesak dada demam, berat badan berkurang serta malaise.

Tembaga (Cu)
Cu dalam jumlah kecil merupakan unsur esensial bagi makhluk hidup. Dalam jumlah besar, Cu bersifat toksik kronis maupun akut. Tosisitas kronis Cu memiliki gejala berupa kehilangan selera makan; kehausan; krisis hemolitik yang ditandai wajah pucat; urine berwarna coklat; sakit kepala, sakit lambung, kehilangan keseimbngan, muntah dan diare, kerusakan hati, ginjal bahkan menyebabkan kematian. Pada anak-anak bisa menyebabkan penurunan tingkat intelegensia anak-anak dalam masa pertumbuhan, batuk-batuk dan pendarahan hidung.Keracunan akut Cu menyebabkan terjadinya nekrosis sentrilobular hepar.

Besi (Fe)
Fe adalah logam esensial bagi tubuh yang dalam dosisi tinggi bersifat toksis, sedangkan dalam dosis rendah dapat mengakibat defesiensi Fe. Efek toksis Fe berupa kerusakan-kerusakan jaringan yang disebut dengan hemokromatosis.

Mangan ( Mn)
Mn merupakan mikronutrien esensial bagi manusia, tanaman dan hewan. Toksisitas Mn bisanya terjadi melalui paparan inhalasi dengan gejala gangguan permanen system syaraf ekstrapiramidal, gangguan kejiwaan serta sirosis hati.

Molibdenum (Mo)
Mo merupakan mikroelemen bagi tubuh dalam dosis kecil dan bersifat tosik dalam dosis besar. Gejala Over dosis Mo adalah tubuh lemah, hilangnya keseimbangan, bintik merah pada kulit, menurunnya jumlah sel darah putih dan anemia.

Selenium (Se)
Se merupakan mikrounsur esensial bagi manusia dan hewan. Defisiensi Se pada manusia mengakibatkan gangguan mental, meningkatkan resiko terserang kanker, penyakit jantung, penuaan, dan berbagai penyakit karena kelemahan system imunitas. Toksisitas kronis pada manusia menunjukkan gejala gigi pucat, kekeringan kulit, gangguan gastrointestinal, kerusakan hati dan empedu, anemia dan gangguan sistem syaraf. Toksisitas akut berupa mual, muntah, sakit perut gangguan fungsi hati, sakit/nyeri otot, perubahan kimia darah yang meliputi peningkatan kadar Hb dan hematokrit.

Seng ( zn)
Zn merupakan unsur esensial bagi tubuh, tetapi dalam dosis tinggi dapat berbahaya dan bersifat toksik. Kelebihan zn akan diabsorpsi dan disimpan dalam hati. Gejala toksisitas akut bisa berupa sakit lambung, diare, mual dan muntah.

Logam berat menjadi berbahaya karena cenderung menjadi bioakumulasi. Bioakumulasi berarti peningkatan konsentrasi bahan kimia dalam organisme hidup dari waktu ke waktu, dibandingkan dengan konsentrasi bahan kimia di lingkungan. Akumulasi senyawa pada makluk hidup ini kapan saja akan di serap dan disimpan lebih cepat dari waktu untuk menghancurkan dan mengeluarkannya.

Refference, antara lain : Widowati W, Sastiono A, Jusuf R. 2008. Efek Toksik Logam:Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran. Andi Offset Yogyakarta.

One thought on “Dampak Logam Berat pada Kesehatan

  1. Maria Poppy says:

    Thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.