Epidemiologi Gizi Buruk

Memahami Faktor Penyebab Gizi Buruk

Menurut Gibson (2005), pengertian gizi buruk merupakan salah satu klasifikasi status gizi berdasarkan pengukuran antropometri. Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari variabel-variabel pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan/ panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan panjang tungkai.

Sedangkan menurut Pedoman Pelaksanaan Respon Cepat Penanggulangan Gizi Buruk Depkes RI (2008), gizi buruk adalah suatu keadaaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) < -3 standar deviasi WHO-NCHS dan atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor dan marasmus kwashiorkor.

Kita tentu sudah paham beberapa tanda khas kejadian gizi buruk ini. Antara lain dikemukanakan oleh Gibson (2005), tanda-tanda gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga katagori, antara lain marasmus, kwashiorkor dan marasmus kwashiorkor.

Beberapa tanda klinis kejadian marasmus, antara lain:

  1. Badan nampak sangat kurus
  2. Wajah seperti orang tua
  3. Cengeng dan atau rewel
  4. Kulit tampak keriput, jaringan lemak subkutis sedikit bahkan (pada daerah pantat tampak seperti memakai celana longgar (baggy pants)
  5. Perut cekung, Iga gambang
  6. Sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis) dan diare

Beberapa tanda klinis kejadian Kwashiorkor, antara lain:

  1. Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki
  2. Wajah membulat (moon face) dan sembab
  3. Pandangan mata sayu
  4. Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok
  5. Perubahan status mental, apatis, dan rewel
  6. Pembesaran hati
  7. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
  8. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavement dermatosis)
  9. Sering disertai penyakit infeksi (akut), anemia dan diare.

Sedangkan gambaran klinis Marasmus Kwashiorkor, pada dasarnya merupakan campuran dari beberapa gejala klinis marasmus dan kwashiorkor.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak jangka pendek gizi buruk terhadap tumbuh kembang anak, antara lain anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor intelligence quotient (IQ), penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi akademik di sekolah. Gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa.

Kita harus dapat memastikan bahwa kejadian gizi buruk harus dapat dideteksi secara dini agar tidak terlambat melakukan intervensi. Usaha deteksi ini dapat dilakukan antara lain melalui intensifikasi pemantauan pertumbuhan dan identifikasi faktor risiko yang erat dengan KLB gizi buruk seperti campak dan diare. Peran Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD KLB) Gizi Buruk adalah sebagai penyedia informasi yang sangat vital dalam rangka mencegah dan menanggulangi KLB gizi buruk. SKD KLB gizi buruk merupakan upaya peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman terjadinya gizi buruk dan faktor-faktor yang mempengaruhi nya melalui surveilans dan informasi nya di manfaatkan untuk meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara cepat dan tepat.

Secara epidemiologi, beberapa faktor penyebab gizi buruk dipelajari untuk membantu penanggulangan masalah secara lebih efektif. Misalnya model penyebab yang dikembangkan Unicef (1990), digunakan secara luas untuk memahami penyebab masalah gizi (malnutrition). Dalam kerangka tersebut, penyebab masalah gizi dibagi dalam tiga tahapan, yaitu penyebab langsung, penyebab tidak langsung dan penyebab mendasar.

Terdapat dua penyebab masalah gizi pada faktor penyebab langsung, yaitu asupan gizi yang kurang dan penyakit infeksi. Sedangkan pada penyebab tidak langsung, disebabkan oleh tiga faktor besar, yaitu tidak cukup pangan, pola asuh yang tidak memadai, dan sanitasi, air bersih/pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai. Sementara Penyebab mendasar atau akar masalah gizi adalah terjadinya krisis ekonomi, politik dan sosial termasuk bencana alam, yang mempengaruhi ketersediaan pangan, pola asuh dalam keluarga dan pelayanan kesehatan serta sanitasi yang memadai, yang pada akhirnya mempengaruhi status gizi balita.

Beberapa rumusan yang telah dirumuskan pemerintah dalam upaya penanggulangan masalah gizi buruk ini, sesuai Depkes RI (2005), meliputi beberapa kegiatan berikut :

  1. Meningkatkan cakupan deteksi dini gizi buruk melalui penimbangan bulanan balita di posyandu.
  2. Meningkatkan cakupan dan kualitas tata laksana kasus gizi buruk di puskesmas / RS dan rumah tangga.
  3. Menyediakan Pemberian Makanan Tambahan pemulihan (PMT-P) kepada balita kurang gizi dari keluarga miskin.
  4. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada anak (ASI/MP-ASI).
  5. Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A) kepada semua balita

Refference, antara lain :

  1. Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005-2009. Depkes RI 2005.
  2. Pedoman Pelaksanaan Respon Cepat Penanggulangan Gizi Buruk. Depkes RI (2008).
  3. Gibson, R.S. 2005. Principles of Nutrition Assesment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *