Metode Pemberantasan DBD

Beberapa Alternatif Pemberantasan Nyamuk Demam Berdarah Dengue

Sebagaimana kita ketahui penyakit DBD pertama kali diakui saat terjadi epidemi di Filipina dan Thailand tahun 1950. Sementara Surabaya dan Jakarta merupakan kota-kota pertama ditemukannya penyakit demam berdarah dengue di Indonesia pada tahun 1968. Pada awal ditemukan jumlah kasus yang dilaporkan sebanyak 58 kasus dengan jumlah kematian 24 orang, Setelah periode ini jumlah kasus penyakit ini cenderung meningkat dengan daerah penyebaran yang semakin bertambah luas, sehingga pada tahun 1994 DBD telah tersebar ke seluruh Propinsi di Indonesia. (Depkes, 2006).

metode pemberantasan DBDSaat ini pengendalian terhadap vektor adalah metode yang tersedia untuk pencegahan demam berdarah dan kontrol terhadap DBD. Sementara penelitian terkait vaksin demam berdarah untuk penggunaan kesehatan masyarakat sedang dalam proses. WHO sendiri terus mengembangkan strategi global untuk pencegahan dan pengendalian dengue / DBD, dengan prioritas utama: memperkuat surveilans epidemiologi, mempercepat pelatihan dan penerapan standar WHO terkait manajemen dan pedoman klinis DBD, promosi perubahan perilaku pada tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat untuk meningkatkan pencegahan dan pengendalian, serta penelitian percepatan pada pengembangan vaksin.

Ditengarai pengendalian nyamuk yang buruk, urbanisasi, dan meningkatkan lalu lintas perjalanan udara – telah menyebabkan meningkatnya kejadian demam berdarah dengue. Menurut CDC saat ini dengue merupakan vektor penyakit paling penting dari aspek kemanusiaan karena morbiditas dan mortalitasnya. Epidemi berulang dengue dan demam berdarah dengue (DBD) telah melanda jutaan  orang setiap tahunnya

Untungnya, DBD dapat diobati secara efektif, dan kebanyakan kematian dapat dicegah, jika tidak terdiagnosa sejak awal. beberapa pendekatan digunakan untuk menanggulangi penyakit ini, diantaranya dengan surveillance aktif dan penggerakan masyarkat.

Surveilans DBD
Menurut CDC, terdapat dua jenis surveilans DBD yang kita kenal, yaitu reaktif atau proaktif. Sebagian besar negara endemik melakukan pengawasan reaktif, dengan otoritas kesehatan menunggu sampai komunitas medis mengakui transmisi sebelum bereaksi untuk menerapkan tindakan pengendalian. Dan surveilans jenis ini sering terlambat menangani kasus. Sedangkan surveilans proaktif memungkinkan prediksi epidemi dengue. Komponen yang paling penting dari sistem ini adalah surveilans virologi proaktif yang dirancang untuk memantau penularan virus dengue, terutama selama periode interepidemic, dan untuk terus memberikan informasi di mana penularan terjadi, jenis serotipe virus, jenis penyakit yang berhubungan dengan infeksi dengue.

Karena demam berdarah sering muncul sebagai penyakit demam nonspesifik, terutama pada anak-anak, komponen lain dari sistem surveilans proaktif dirancang untuk mendeteksi peningkatan penyakit demam di masyarakat. Melalui jaringan epidemiologi perawat, dokter, dan petugas kesehatan lingkungan, setiap peningkatan penyakit demam dilaporkan dan diselidiki segera. Sampel darah yang diperoleh dari sampel kasus, diperikasa secara laboratorium, yang bertujuan untuk mengisolasi virus dengue serta mendeteksi antibodi spesifik IgM.

Sistem pengawasan proaktif seharusnya juga memonitor semua kasus penyakit hemoragik dan semua kasus penyakit virus yang fatal.  Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan dokter atau rumah sakit , untuk kemudian melakukan penyelidikan terhadap kasus yang dilaporkan. Tindakan kemudian dilakukan terkait pemeriksaan  spesimen darah untuk memperoleh data virologi dan studi serologi.

Setelah dilakukannya beberapa tindakan tersebut hasil yang diperoleh dapat menjadi dasar sebuah tindakan cepat tanggap Darurat Pengendalian vektor. Diantara pertimbangan tindakan ini karena alasan bahwa pengendalian rutin nyamuk tidak akan mengurangi populasi vektor di bawah ambang batas yang diperlukan untuk transmisi epidemi (apalagi pengendalian yang tidak rutin).

Sementara metode dasar yang digunakan dengan menggunakan alur, ketika data surveilans menunjukkan transmisi dengue meningkat atau pengenalan serotipe virus dengue baru harus segera diikuti dengan penyelidikan segera. Data epidemiologi dikumpulkan dalam upaya untuk menentukan jenis dan tempat infeksi terjadi atau mereka mungkin telah menyebar.

Tindakan lapangan segera perlu dilakukan, dengan program pengurangan sumber dengan target utama  menekankan pengobatan penderita dan menghapus habitat larva yang paling produktif dengan fogging.

Berbagai metode dan usaha pemberantasan telah banyak dilakukan pemerintah dan masyarakat. Pemberantasan penyakit DBD pada dasarnya secara umum dilakukan dengan pendekatan dan metode  pemberantasan penyakit menular lainnya. Hanya yang menjadi catatan kita, sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk mencegah dan obat untuk membasmi virus ini. Pemberantasan penyakit DBD pada akhirnya dilaksanakan terutama dengan memberantas nyamuk penularnya.

Namun yang penting menjadi catatan kita, bahwa keberhasilan akhir dari program ini akan tergantung pada partisipasi masyarakat, sehingga pengendalian jangka panjang kontrol dan pengendalian nyamuk dilakukan secara terpadu Berbasis Masyarakat.

Pengendalian DBD di Indonesia
Menurut Depkes RI (2005), penanggulangan fokus merupakan kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk DBD. Tujuan pennggulangan fokus dilaksanakan untuk membatasi penularan DBD dan mencegah KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan.

Untuk mencapai keberhasilan program pemberantasan nyamuk demam berdarah, harus terintegrasi melalui kegiatan pembersihan habitat dan sumber jentik yang mutlak melibatkan  semua komponen masyarakat. Sebagaimana menurut WHO (2003), bahwa program pemberantasan Aedes aegypti yang berhasil dan berkesinambungan haruslah melibatkan kerjasama antara lembaga pemerintah yang terkait dengan masyarakat.

Pada dasarnya pengendalian nyamuk Aedes aegypti dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode terpilih dan tepat seperti secara kmia, fisik, maupun biologis. Juga metode yang dinilai paling efektif dan murah melalui pendekatan dan pengelolaan lingkungan. Penerapan metode ini pada prinsipnya bertujuan untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti dan mengurangi kontak antara vektor dengan manusia. Sedangkan beberapa kegiatan yang paling memungkinkan dengan melakukan kegiatan PSN atau pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan buatan manusia dan perbaikan desain rumah.

Sementara menurut Depkes RI (2005), pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah “3M” meliputi usaha untuk mengurs, menutup dan mengubur tempat-tempat perindukan. Pengurasan tempat-tempat penampungan air (TPA) perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali. Pelaksanaan PSN DBD dilakukan oleh masyarakat maka populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendah-rendahnya, sehingga penularan DBD tidak terjadi lagi. Untuk itu upaya penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan karena keberadaan jentik nyamuk berkaitan erat dengan perilaku masyarakat.

Metode lain dengan melakukan pengendalian secara biologi. Penerapan pengendalian biologi ini khususnya ditujukan langsung terhadap jentik vektor dengue. Beberapa alternatif yang dipilih antara lain  dengan memeliharan ikan pemakan jentik seperti ikan kepala timah, ikan gupi, cupang/tempalo dan lain-lain) dan dapat juga digunakan bacillus thuringlensis var, israeliensis (Bti).

Selain dengan kedua metode diatas, pengendalian nyamuk aedes aegypti sebagai vektor DBD dapat juga dilakukan secara kimiawi. Pengendalian secara kimiawi bertujuan mengendalikan Aedes aegypti dengan menggunakan bahan kimia tertentu. Sedangkan jenis insektisida yang biasa digunakan antara lain golongan organoposfat seperti fenthion, malathion dan fenithrothion, golongan sintetik piretroid seperti sipermetrin, fendona dan alpamethrine.

Diantara berbagai metode tersebut, keterlibatan swadaya masyarakat sangat menentukan keberhasilan tujuan. Dalam dunia kesehatan masyarakat usaha melibatkan peran aktif masyarakat ini kita kenal dengan kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat. Penyuluhan kesehatan sangat penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dan menjadi prioritas terutama di daerah endemis dan wilayah yang berisiko tinggi terjangkit DBD. Penyuluhan kesehatan dilaksanakan melalui berbagai saluran komunikasi personal, kegiatan kelompok pendidikan dan berbagai media masa. Penyuluhan ini dapat diimplementasikan melalui organisasi kemasyarakatan, organisasi wanita, sekolah, juga tokoh masyarakat baik formal maupun non formal.

Referrence, antara lain :
•    Depkes RI. 2006. Petunjuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Demam Berdarah Dengue di Perkotaan.
•    Depkes RI. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia
•    WHO. 2003. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue,
•    Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2013.

One thought on “Metode Pemberantasan DBD

  1. Artikel yg keren tentang training TPA & penasehat TPA ini
    sangat bermanfaat. Keren sekali dan bermanfaat banget. Siapa aja yang pakai ataupun sedang mencari jasa belajar TPA
    murah di Indonesia harus baca artikel ini.
    Silakan kunjungi juga website gw ya sis, ada artikel keren yg bisa jadi
    berguna buat siapa aja pengguna belajar TPA. Thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.