Penularan Penyakit Diare

Definisi dan Cara Penularan Penyakit Diare

Menurut definisi Depkes RI (2000), diare adalah buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya/ biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari. Urusan penyakit diare dari berbagai faktor muaranya masih akan berujung pada masalah jamban, air bersih dan perilaku. Sebagaimana dikemukakan bahwa : Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga digunakan untuk mencuci, mandi dan kebutuhan higienis lainnya (Depkes RI, 2008)

Kemampuan berfikir dan profesionalisme praktisi Public Health (sepertinya) memang masih harus dekat dengan persoalan ini. Benar simbah bilang, sementara di negara lain orang sudah berkutat di bulan, kita masih berkutat di urusan jamban. Namun ini memang kondisi faktual kita, sehingga ketika suatu hari kita harus mengisi permintaan data dari pusat terkait data pemantauan peredaran barang yang berhubungan dengan penipisan lapisan Ozon, kita toleh kanan – toleh kiri. Ketika itu saya teringat masa indah ketika sekolah. Ketika segala hal kita pelajari, mulai ukur tanah, deteksi sumber air bersih dengan gelombang listrik, uji porositas, teori dan praktikum dust sampler, teori simpul ADKL, dan segudang ilmu lain. Sementara saat ini kita terengah engah dikejar berbagai permasalah kesehatan lingkungan yang kian hari kian berkembang, tanpa mampu kita ikuti hikayat dan asbabun nuzulnya.

Diare, sebuah penyakit yang masih dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat, karena kalah pamor dari AIDS, Narkoba, Polio, atau Cancer. Padahal sebagaimana dikemukakan bahwa :

  1. Buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penyebab kematian anak di bawah 3 tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar 100.000 anak meninggal karena diare setiap tahunnya dan kerugian ekonomi diperkirakan sebesar 2,3% dari Produk Domestik Bruto (studi World Bank, 2007, dalam Depkes 2008).
  2. Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak diseluruh dunia terutama negara – negara berkembang. Di Indonesia diperkirakan angka kesakitan antara 150 – 430 perseribu penduduk setahunnya (M.H Abdoerrachman dkk, 1985)

Diare dapat disebabkan oleh agen biologi maupun agen non biologi. Agen biologi seperti bakteri, virus dan parasit (cacing, protozoa). Agen non biologi misalnya keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri atau bahan kimia, immunodefisiensi, alergi dan malabsorbi. Diare yang disebabkan oleh agen  Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Diare yang disebabkan oleh agen non biologi merupakan diare yang bersifat tidak menular. Diare yang disebabkan oleh agen biologi adalah diare yang dapat menular tetapi dapat dicegah dengan memutuskan rantai penularanny.

Penularan Penyakit Diare

Penularan secara langsung : Penyakit diare dapat ditularkan dari orang satu ke orang lain secara langsung melalui fecal – oral dengan media penularan utama adalah makanan atau minuman yang terkontaminasi agen penyebab diare (Suharyono, 1991). Penderita diare berat akan mengeluarkan kuman melalui tinja, jika pembuangan tinja tidak dilakukan pada jamban tertutup, maka akan berpotensi sebagai sumber penularan.

Penularan secara tidak langsung : Penyakit diare dapat juga ditularkan secara tidak langsung melalui air. Air yang tercemar kuman, bila igunakan orang untuk keperluan sehari-hari tanpa direbus atau dimasak terlebih dahulu, maka kuman akan masuk ke tubuh orang yang memakainya, sehingga orang tersebut dapat terkena diare.

Incoming Search Terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.