Penyebab Terjadinya KIPI

Faktor Pencetus dan factor yang berpengaruh terhadap Kejadian Pasca Imunisasi (KIPI)

Peningkatan penggunaan vaksin berpotensi meningkatkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Untuk mengetahui faktor penyebab KIPI antara lain diperlukan pelaporan pencatatan dari semua reaksi yang timbul setelah pemberian imunisasi. Terdapat beberapa sarana untuk memantau kejadian KIPI, antara lain dengan menerapkan sistim surveilans sehingga didapatkan profil keamanan penggunaan vaksin di lapangan.

Beberapa faktor penyebab dan pencetus kejadian KIPI dapat karena kesalahan pada level program, karena reaksi suntikan, reaksi vaksin, sebuah koinsiden, dan faktor penyebab yang belum diketahui.

Menurut beberapa data, sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi, contoh dosis antigen (terlalu banyak), lokasi dan cara menyuntik, sterilisasi jarum suntik, tindakan aseptik dan antiseptik, penyimpanan vaksin, pemakaian sisa vaksin, jenis dan jumlah pelarut vaksin, tidak sesuai dengan petunjuk produsen.

Faktor pencetus lain KIPI karena reaksi suntikan. Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak, dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung, misalnya, rasa takut, pusing, mual, sampai sinkop.

Sementara berdasarkan penyebab karena reaksi vaksin, dapat dijelaskan bahwa gejala KIPI yang disebabkan oleh reaksi vaksin atau induksi vaksin, pada umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian, dapat saja terjadi gej ala klinis hebat, seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan risiko kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atau berbagai tindakan dan perhatian spesifik lainnya, termasuk kemungkinan interaksi dengan obat atau vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana imunisasi.
Sedangkan faktor penyedap karena faktor kebetulan (koinsiden), mempunyai indicator, antara lain ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama di saat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak mendapat imunisasi.

Sedangkan kejadian KIPI karena faktor penyebab tidak diketahui, dimakasudkan jika kejadian atau masalah yang terjadi belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab. Kemudian untuk sementara, masalah atau kejadian ini dimasukkan kedalam kelompok penyebab tidak diketahui, sambil menunggu detail informasi lainnya.

Faktor penyebab atau pencetus KIPI, antara lain dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa katagori berikut ini :

  1. Tidak terdapat bukti hubungan kausal
  2. Bukti tidak cukup untuk menerima atau menolak hubungan kausal
  3. Bukti memperkuat penolakan hubungan kausal
  4. Bukti memperkuat penerimaan hubungan kausal
  5. Bukti memastikan hubungan kausal.

Salah satu contoh pengkatagorian dimaksud pada KIPI Vaksin DTP (Sratton.dkk,1994).

KIPI Vaksin DTP

Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap KIPI. Faktor-faktor yang berpengaruh tersebut, menurut WHO (1995), meliputi jenis antigen, cara pemberian, ajuvan, dan unsur lain yang terdapat di dalam vaksin.

Jenis Antigen
Menurut Atkinson, dkk (2000), reaksi sistemik timbul secara umum demam, malaise, myalgia, sakit kepala, hilang nafsu makan, dan gangguan pencernaan dll. Gej ala sistemik yang ditimbulkan bervariasi bergantung pada jenis antigen. Secara umum, reaksi lokal yang ditimbulkan berupa rasa nyeri pada lokasi suntikan, terjadi kemerahan, pembengkakan dan pengerasan. Gejala lokal yang ditimbulkan bergantung pada jenis vaksin, seperti pasca suntikan BCG berupa terjadinya limfadenitis BCG, abses pada tempat suntikan, reaksi arthrus (kemerahan pada lokasi suntikan akibat dari jumlah dosis TT yang berlebihan)setelah pemberian imunisasi tetanus.

Cara Pemberian
Cara pemberian vaksin dapat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap KIPI, antara lain dikemukakan Papaevangelou,dkk (1995), bahwa teknik penyuntikan dapat menimbulkan reaksi local, seperti terjadinya abses dingin jika penyuntikan kurang dalam. Cara pemberian imunisasi yang tidak aman, akan menimbulkan gejala KIPI, baik gejala umum maupun gejala lokal

Referrence, diantaranya : Stratton, K.R. et al. 1994. Adverse events associated with childhood vaccines, Evidence bearing on causality. Vaccine Safety Committee. National Academy Press, Washington; WHO. 1995. Hepatitis B control through immunization. SAGE.Genewa; Atkinson,W. et al. 2000. Epidemiology and Prevention of Vaccine Preventable Disease; Papaevangelou, G., 1995.  Evaluation of combined tetravalent diptheria, tetanus, whole-cell pertusis and hepatitis B candidate vaccine administered to healthy infants according to a three-dose vaccination schedule”. Vaccine.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *