Penyelidikan Epidemiologi Leptospirosis

Penyelidikan Epidemiologi Kejadian Luar Biasa (KLB) Leptospirosis di lapangan

Menurut Kemenkes (2017), laporan insidens lepotospirosis sangat dipengaruhi oleh tersedianya perangkat laboratorium diagnostik, indeks kecurigaan klinik dan insidens penyakit itu sendiri. Penularan pada manusia terjadi melalui paparan pekerjaan, rekreasi atau hobi dan bencana alam. Kontak langsung manusia dengan hewan terinfeksi di areal pertanian, peternakan, tempat pemotongan hewan, petugas laboratorium yang menangani tikus, pengawasan hewan pengerat. Sedangkan kontak tidak langsung penting bagi pekerja pembersih selokan, buruh tambang, prajurit, pembersih septictank, peternakan ikan, pengawas binatang buruan, pekerja kanal, petani kebun dan pemotongan gula tebu.

Penyakit ini sifatnya musiman. Di negara beriklim sedang puncak kasus cenderung terjadi pada musim panas dan musim gugur karena temperatur. Sementara pada negara tropis insidens tertinggi terjadi selama musim hujan.

Penanggulangan KLB leptospirosis ditujukan pada upaya penemuan dini serta pengobatan penderita untuk mencegah kematian. Intervensi lingkungan untuk mencegah munculnya sarang- sarang atau tempat persembunyaian tikus.

Penyelidikan Epidemiologi

Penyelidikan epidemiologi dilakukan terhadap setiap laporan kasus dari rumah sakit atau laporan puskesmas. Penyelidikan kasus Leptospirosis lain di sekitar tempat tinggal penderita, tempat kerja, tempat jajan atau daerah banjir banjir sekurang­kurangnya 200 meter dari lokasi banjir. Penyelidikan Epidemiologi dilakukan pada:

Pelaksanaan PE di Rumah Sakit

  1. Pastikan kesiapan pihak RS menerima kedatangan tim, bertemu dengan dokter yang merawat penderita serta Tim Leptospirosis;
  2. Diskusikan hasil wawancara, pemeriksaan, laboratorium serta diaagnosis kasus menurut dokter yang merawat dan tim dokter rumah sakit;
  3. Dokumentasikan seluruh data yang terdapat dalam rekam medis, laboratorium dan kalau diperlukan foto thoraks;
  4. Isi formulir yang dibutuhkan secara lengkap dan lakukan wawancara dengan penderita dan keluarganya untuk mengetahui perjalanan penyakit, kemungkinan sumber pen ularan dan kontak kasus di rumah
  5. Identifikasi dan catat pasien lain yang yang berasal dari wilayah yang sama dan mempunyai keterpaparan faktor risiko Leptospirosis, dan catat dalam formulir pelacakan kasus Leptospirosis di RS;
  6. Catat nama dan nomor telepon kepala ruangan atau kontak person yang ditunjuk untuk memantau pasien suspek tersebut, dan nama dan nomor telepon dokter yang merawat penderita;
  7. Jika kasus menunjukkan gejala suspek dan minimal sudah 6 hari sakit dari onset untuk diambil darahnya untuk dilakukan pemeriksaan RDT dan segera mendapat pengobatan doksisi klin;
  8. Pasien yang ditemukan di RS untuk dilakukan pemantauan dan apabila keadaan memungkinkan bisa diambil darahnya untuk dilakukan pemeriksaan MAT;

Pelaksanaan PE di Puskesamas /Lapangan

  1. Penyelidikan epidemiologi dilakukan terhadap semua kasus yang menunjukkan probabel Leptospirosis dan kasus Leptospirosis positif minimal dengan RDT;
  2. Puskesmas menerima laporan adanya laporan kasus suspek Leptospirosis atau, maka  segera dilakukan pencatatan di buku catatan harian penderita Leptospirosis dan buku laporan kasus rutin mingguan diteruskan untuk laporan bulanan ke kabupaten;
  3. Penyelidikan epidemiologi kasus Leptospirosis lapangan dilakukan oleh tim penyelidikan epidemiologi puskesmas, kabupaten/kota, termasuk tim litbangkes dan BBTKL dengan tim propinsi maupun tim pusat sesuai kebutuhan. Sebaiknya adalah Tim yang melakukan penyelidikan epidemiologi di rumah sakit pada kasus Leptospirosis yang sama;
  4. Untuk penyelidikan awal dilakukan oleh puskesmas berkoordinasi dengan dinkes kabupaten/ kota. Pelaksana PE adalah perawat/sanitarian di puskesmas yang telah mengikuti pelatihan/mempunyai kompetensi khusus;
  5. Petugas PKM menyiapkan peralatan dan logistik PE seperti (masker, sarung tangan), dan lain-lain .
  6. Pencarian penderita baru setiap hari dari rumah ke rumah, apabila ditemukan suspek dengan gejala klinis Leptospirosis, lakukan wawancara dengan keluarga terdekat penderita yang mengetahui perjalanan penyakit penderita, isi formulir penyelidikan epidemiologi lapangan dengan lengkap;
  7. Identifikasi adanya kasus lain yang menunjukkan gejala suspek yang sama dengan kasus Leptospirosis positip yang dirawat. Catat nama, alamat dan kapan mulai sakit serta keadaan pada saat wawancara dilakukan;
  8. Apabila diantara kontak ada yang menderita sakit demam, nyeri kepala, myalgia, malaise dan conjunctival suffusion lakukan pengambilan serum darah untuk dilakukan pemeriksaan RDT dan PCR, dan segera mendapatkan pengobatan doxyciklin dan rujuk ke RS apabila menunjukkan probable dengan perdarahan dan gagal ginjal;
  9. Identifikasi orang-orang yang mempunyai keterpaparan faktor risiko yang sama dengan penderita terutama yang tinggal serumah, teman bermain, tetangga terdekat, dan lingkungan sekitar. Catat nama-nama suspek tersebut dalam formulir pelacakan kasus tambahan;
  10. Memberikan penjelasan kepada semua masyarakat di lingkungan kasus Leptospirosis memantau kondisi diri sendiri, jika menunjukkan gejala dengan demam atau sama dengan kasus suspek Leptospirosis segera ke puskesmas terdekat untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut;
  11. Tim puskesmas agar melakukan pemantauan wilayah setempat di daerah terjadinya kasus untuk mencari kasus tambahan dan catat hasilnya dalam formulir dan apabila ditemukan suspek Leptospirosis segera melaporkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota untuk diambil spesimennya dan segera dilakukan pengobatan.
  12. Catat nama dan nomor telepon kontak person dari keluarga penderita serta tim puskesmas dan Kabupaten/Kota;
  13. Observasi lingkungan sekitar tempat tinggal, adakah faktor risiko seperti banjir, daerah kumuh dengan banyak genangan air, daerah pertanian, perkebunan dan banyak populasi tikus, sanitasi lingkungan jelek dll. Ambil foto-foto yang dianggap penting. Jika di sekitar rumah tidak ditemukan adanya faktor risiko, tanyakan lebih jauh tempat penderita main/pergi dalam 2 minggu terakhir;
  14. Dilakukan pengambilan spesimen tikus, air dan tanah untuk dilakukan pemeriksaan PCR dan MAT;
  15. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) oleh puskesmas dilakukan 2 kali masa inkubasi kasus Leptospirosis dari terjadinya puncak kasus dan apabila ada yang menunjukkan gejala suspek untuk segera dilakukan pengobatan.

Laporan penyelidikan epidemiologi sebaiknya dapat menjelaskan :

  1. Diagnosis KLB leptospirosis
  2. Penyebaran kasus menurut waktu (minggu), wilayah geografi (RT/RW, desa dan Kecamatan), umur dan faktor lainnya yang diperlukan, misalnya sekolah, tempat kerja, dan sebagainya.
  3. Peta wilayah berdasarkan faktor risiko antara lain, daerah banjir, pasar, sanitasi lingkungan, dan sebagainya.
  4. Status KLB pada saat penyelidikan epidemiologi dilaksanakan serta perkiraan peningkatan dan penyebaran KLB. Serta rencana upaya penanggulangannya

Penegakan diagnosis kasus dapati dilakukan dengan Rapid Test Diagnostic Test (RDT) dengan mengambil serum darah penderita untuk pemeriksaan serologi, jenis ROT diantaranya Leptotek Lateral Flow dengan ROT (Rapid Test Diagnostik)

Pemeriksaan dilakukan dengan dengan memasukan 5 mL serum atau10 mL darah, dan 130 mL larutan dapar, hasil dibaca setelah 10 menit. Leptotek Lateral Flow cukup cepat, mendeteksi IgM yang menandakan infeksi baru, relatif mudah, tidak memerlukan almari pendingin untuk menyimpan reagen, namun memerlukan pipet semiotomatik, dan pemusing bila memakai serum. Alat ini mempunyai sensitifitas 85,8% dan spesifitas 93,6%.

KLB Leptospirosis ditetapkan apabila memenuhi salah satu kriteria (sesuai Permenkes 1501 Tahun 2010) sebagai berikut:

  1. Terjadinya kasus baru di suatu wilayah kecamatan, kabupaten/kota yang sebelumnya belum pernah ada/tidak dikenal kasus Leptospirosis, atau
  2. Munculnya kesakitan Leptospirosis di suatu wilayah kecamatan yang selama 1 tahun terakhir tidak ada kasus;
  3. Terjadinya peningkatan kejadian kesakitan/ kematian Leptospirosis dua kali atau lebih dibandingkan dengan jumlah kesakitan/ kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam, hari, minggu atau bulan) berturut- turut tergantung jenis penyakitnya, atau
  4. Terjadinya peningkatan kejadian kesakitan secara terus menerus di suatu wilayah kecamatan, kabupaten/kota selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam, hari,minggu atau bulan berturut-turut menurut jenis penyakitnya, atau
  5. Terjadinya peningkatan angka kematian (case fatality rate) akibat kasus Leptospirosis sebanyak 50% atau lebih dibandingkan angka kematian kasus Leptospirosis pada periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

Penanggulangan

  1. Penyediaan logistik di sarana kesehatan, koordinasi dengan pemangku kepentingan dan sektor terkait, penemuan dini penderita dan pelayanan pengobatan yang tepat di puskesmas dan rumah sakit melalui pengambilan spesimen serum darah kasus probabel,
  2. Lakukan pemeriksaan ROT,
  3. Untuk diagnosa pasti (konfirmasi) kirim spesimen kasus Leptospirosis berat ke laboratorium rujukan Nasional Leptospirosis (RSUP Or. Kariadi) untuk dilakukan pemeriksaan MAT,
  4. Lakukan pengobatan terhadap pasien Leptospirosis ringan Ooksisiklin 2x100mg selama7 (tujuh) hari kecuali pada anak, ibu hamil, atau bila ada kontraindikasi Ooksisi kl in
  5. Lakukan pencegahan dengan memutuskan rantai penularan hewan /tanah tercemar ke manusia
  6. Rujuk pasien ke RS apabila diperlukan penanganan lebih lanjut.
  7. Penyuluhan masyarakat tentang tanda-tanda penyakit, resiko kematian serta tatacara pencarian pertolongan.

Upaya Pencegahan

Upaya pencegahan terhadap penyakit Leptospirosis dengan cara sebagai berikut :

  1. Melakukan kebersihan individu dan sanitasi lingkungan antara lain mencuci kaki, tangan dan bagian tubuh lainnya setelah bekerja di sawah.
  2. Pembersihan tempat penyimpanan air dan kolam renang.
  3. Pendidikan kesehatan tentang bahaya, cara penularan penyakit dengan melindungi pekerja beresiko tinggi dengan penggunaan sepatu bot dan sarung tangan, vaksinasi terhadap hewan peliharaan dan hewan ternak.
  4. Pemeliharaan hewan yang baik untuk menghindari urine hewan-hewan tersebut terhadap masyarakat.
  5. Sanitasi lingkungan dengan membersihkan tempat-tempat habitat sarang
  6. Pemberantasan rodent bila kondisi memungkinkan.

Surveilans Ketat Pada KLB

  1. Pengamatan perkembangan jumlah kasus dan kematian leptospirosis menurut lokasi geografis dengan melakukan surveillans aktif berupa data kunjungan berobat, baik register rawat jalan dan rawat inap dari unit pelayanan termasuk laporan masyarakat yang kemudian disajikan dalam bentuk grafik untuk melihat kecenderungan KLB.
  2. Memantau perubahan faktor risiko lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan habitat rodent (banjir, kebakaran, tempat penampungan pengungsi, daerah rawa dan gambut).

 Sistem Kewaspadaan Dini KLB

  1. Pemantauan terhadap kesakitan dan kematian leptospirosis.
  2. Pemantauan kondisi rentan yang menyebabkan peningkatan kontaminasi terhadap tanah atau air permukaan, seperti hujan, banjir, dan bencana lainnya,
  3. Pemantauan terhadap distribusi dan populasi rodent serta perubahan habitatnya,
  4. Pemantauan kolompok risiko lainnya, seperti petani, pekerja perkebunan, pekerja pertambangan dan selokan, pekerja rumah potong hewan, dan militer.

Sumber :

Buku Pedoman Penyelidikan Dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular Dan Keracunan Pangan, (Pedoman Epidemiologi Penyakit), Edisi revisi tahun 2017, Katalog Terbitan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.