Perbedaan Ispa dan Pneumonia ?

Perbedaan Ispa dan Pneumonia serta Tata Lakasananya

Sebagian dari kita mungkin masih sering bingung dengan istilah Ispa dan Pneumonia. Sejak dilaksanakannya Program P2 ISPA untuk Penanggulangan Pneumonia pada balita tahun 1990 masih sering timbul kerancuan pemahaman tentang perbedaan antara Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Pneumonia. Tulisan ini antara lain dimaksudkan sebagai ulasan sekilas tentang ISPA dan Pneumonia. .Beberapa data menunjukkan, bahwa penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) saat ini masih merupakan masalah kesehatan utama. Episode penyakit batuk pilek pada Balita di Indonesia diperkirakan sebesar 3 sampai 6 kali setiap tahun. Pada banyak negara berkembang, lebih dari 50% kematian pada umur anak-anak balita disebabkan karena infeksi saluran pernafasan akut pneumonia, yakni infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Sesuai data Depkes RI, sampai akhir tahun 2000, diperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama infeksi saluran pernafasan akut di Indonesia mencapai 6 kasus di antara 1000 bayi dan balita.Istilah ISPA merupakan kepanjangan dari infeksi saluran pernafasan akut dan mulai diperkenalkan pada tahun 1984. Istilah mana merupakan padanan istilah bahasa Inggris Acute Respiratory Infection (ARI). Walaupun terjadi beda pendapat pada Lokakarya Nasional ISPA (1984), yaitu  yang memilih istilah ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) dan pendapat kedua yang memilih ISNA (infeksi saluran nafas akut).  Pada akhir lokakarya diputuskan penggunaan istilah ISPA.

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Kriteria penggunaan pola tatalaksana penderita ISPA adalah balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernafas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 bagian yaitu  tahap pemeriksaan, penentuan ada tidaknya tanda bahaya, penentuan klasifikasi penyakit, serta tahap pengobatan dan tindakan.

Dalam penentuan klasifikasi penyakit dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan kurang dari 5 tahun dan kelompok untuk umur kurang dari 2 bulan. Pada klasifikasi kelompok umur 2 bulan kurang dari 5 tahun klasifikasi dibagi atas Pneumonia berat, Pneumonia dan bukan Pneumonia. Sementara pada kelompok umur kurang dari 2 bulan klasifikasi dibagi atas Pneumonia berat dan bukan Pneumonia.

Pada pelaksanaan pendekatan manajemen terpadu balita sakit (MTBS) klasifikasi pada kelompok umur kurang dari 2 bulan meliputi infeksi bawah ke dalam (chest indrawing) pada anak usia 2 bulan kurang dari 5 tahun. Sedangkan pada kelompok umur kurang dari 2 bulan diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat (fast breathing), dengan kriteria antara lain frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam (severe chest indr awing).

Pada klasifikasi bukan Pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi bukan Pneumonia mencakup penyakit¬penyakit ISPA lain di luar Pnemonai seperti batuk pilek bukan Pneumonia (common cold, pharyngitis, tonsilitis, otitis).

Pola tatalaksana ISPA hanya dimaksudkan untuk tatalaksana penderita Pneumonia berat, pneumonia dan batuk bukan pneumonia. Sedangkan penyakit ISPA lain seperti pharyngitis, tonsilitis dan otitis belum termasuk pada cakupan program.

Sementara prosedur tata laksana pengobatan dan penanganan penyakit ISPA pada balita disesuaikan dengan diagnosis klasifikasi yang telah ditentukan oleh petugas kesehatan. Tatalaksana pengobatan penyakit ISPA pada balita umur 2 bulan sampai dengan 5 tahun meliputi jenis pengobatan demam, pemberian antibiotik, dan pengobatan wheezing.

Pneumonia
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru¬-paru (alveoli). Menurut Pedoman Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita (Depkes RI, 2002), terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA semua bentuk Pneumonia (baik Pneumonia maupun brokopneumonia) disebut Pneumonia saja.

Sementara menurut WHO, pneumonia merupakan bentuk peradangan dari jaringan paru yang ditandai dengan gejala batuk dan sesak nafas atau nafas cepat. Selanjutnya digunakan oleh Departemen Kesehatan dalam Program penanggulangan infeksi saluran pernafasan akut (P2–ISPA) secara Nasional. Berdasarkan buku pedoman P2-ISPA  (Depkes, 2000) pneumonia diklasifikasikan sebagai bukan pneumonia, pneumonia dan pneumonia berat.

Pada anak balita sulit untuk menetapkan etiologi pneumonia  karena dahak biasanya sukar untuk diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pneumonia. Hanya biakan dari aspirat paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu penetapan etiologi pneumonia. Meskipun pemeriksaan spesimen aspirat paru merupakan cara yang sensitif untuk mendapatkan dan menentukan bakteri penyebab pneumonia pada balita tatapi merupakan prosedur yang mempunyai resiko yang tinggi bagi anak balita.

Adapun klasifikasi pneumonia ((Depkes, 2000), terbagi sebagai berikut:

  1. Klasifikasi pneumonia berat berdasarkan adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai napas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah kedalam (chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai
  2. Klasifikasi pneumonia berdasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya napas cepat sesuai umur. Batas napas cepat (fast breathing) pada anak usia 2 bulan  sampai
  3. Klasifikasi bukan pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi napas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam. Dengan demikian klasifikasi bukan pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain diluar Pneumonia seperti batuk pilek bukan pneumonia (common cold, faringitis, tonsillitis, otitis).

Sedangkan secara mikrobiologi, mikroba patogen penyebab infeksi saluran  pernafasan akut serta terapi  presumtif pada anak, terinci sebagai berikut: (Dipiro et al, 2005).

Mikroba Pathogen Penyebab ISPA

 
Referensi, antara lain :

  • Program P2 ISPA untuk penanggulanagan pneumonia pada balita Ditjen  Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. 2000
  • Pedoman Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk Penanggulangan Pneumonia pada  Balita,. Dit.Jen.PPM-PLP, Jakarta. 2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.