PMK KLB Covid-19 Pandemi

KLB Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), dan Masalah Kesehatan Masyarakat

Seluruh masalah kesehatan punya karakteristik khas. Seharusnya dapat diperdiksi. Dapat diestimasi kapan terjadi. Melalui serangkaian tool alert, lengkap dengan protocol standart respons-nya.

Berita buruknya, intervensi pencegahan tidak selalu berhasil di awal. Tiba-tiba masa inkubasi sudah terlampaui. Dan saat itu terjadi, waktu tidak mau tahu lagi. Demikian pula Kejadian Luar Biasa Penyakit Mulut dan Kuku (KLB PMK) pada ternak. Dia muncul dan menjadi sangat bermasalah ketika Covid-19 masih berstatus pandemi. Masih berstatus Public Health Emergency of International Concern. Sejak ditetapkan WHO tanggal 30 Januari 2020.

Dia juga muncul sesaat sebelum idul Qurban 1433H. Ketika siklus tahunan permintaan hewan ternak sedang berada di puncak. Juga saat sebagian  besar kita hampir lupa pada perangkat respon semestinya dari PMK. Karena sudah berpuluh tahun ternak kita berstatus bebas PMK. Setidaknya bebas KLB PMK.

Kemudian berturut kita dengar beberapa jenis kejadian ikutan dari kepanikan: Ternak dijual murah, ternak mati, ternak sembelih paksa. Kemudian harga daging terjun bebas. Atau naik mendaki.

Mengapa?

Sepertinya phobia (bisa jadi paranoid) covid-19 telah menjadikan respon kurang sepadan pada PMK. Minimal demikian menurut Bude Jamilah.

Betulkah?

Minimal itu sesuatu yang sangat patut diduga.

Karena omzet penjualan pedagang bakso yang turun, lebih rendah dibandingkan saat puncak Covid-19. Karena kengganan sebagain masyarakat membeli dan mengkonsumsi daging (untuk sementara). Adalah contoh-contoh sederhana yang disodorkan Kaji Anam untuk mendiskripsikan dampak PMK. Saat berkunjung ke ruang P2P kemarin dulu.

Beliau tidak punya kapasitas untuk menaikkan level contoh, misalnya bagaiman pola lockdown atau PPKMT (Pembetasan Kegiatan Masyarakat dan Ternak)  pada tingkat perdagangan antar wilayah. Atau seberapa sudut kemiringan jatuh harga ditingkat peternak. Komparasi lockdown pada ternak dan covid-19 ternyata belum dapat dilakukan.

Masalah Kesehatan Masyarakat pada PMK

Bagaimana posisi PMK pada kesehatan masyarakat?

Pertama: Distribusi informasi sebetulnya sudah dilakukan. Sejak awal trend kenaikan grafik infeksi PMK terjadi. Bahwa PMK bukan zoonosis. Seharusnya setelah itu selesai. Minimal sebagian besar kejadian ikutan PMK menjadi minimalis. Tidak harus terjadi panic selling. Atau harus keburu mengganti menu rawon daging sapi dengan sayur kelor pepes teri.

Kedua: wHO dan World Organisation for Animal Health, setidaknya hingga saat ini masih menganggap PMK pada ternak belum menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Ketiga: Para ahli Virologi masih yakin, virus genus Aphthovirus dari famili Picornaviridae pada PMK ini tidak punya reseptor pada manusia. Sejauh sampai saat ini. Sejauh belum ditemukan data mutasi.

Keempat: Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) masih efektif. Konsep hygiene sanitasi makanan yang fokus pada proses pencegahan ini dinilai masih sangat efektif mencegah risiko terpapar virus atau bakteri dari mengkonsumsi daging. Misalnya melalui prosedur pemilihan daging, standard waktu dan suhu saat memasak. Dan seterusnya.

Kesimpulan : Masalah kesehatan masyarakat utama saat ini masih Covid-19.

Jadikan Penyakit Mulut dan Kuku pada ternak, sebagai alert ditingkat konsistensi pengumpulan, pengolahan, dan analisa data. Semoga siklus alam masih menyisakan keramahan dan kelembutan makrokosmos. Dan mikrokosmos.

(jRenk’22)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Indonesian Public Health Portal