Stunting Bukan Hanya Sekedar Pendek

Stunting, Penyebab dan Intervensi Penanganannya

(Oleh Lita Dwi L)

 

WHO mendefinisikan stunting sebagai “the impaired growth and development that children experience from poor nutrition, repeated infection, and inadequate psychosocial stimulation”. Saat ini istilah stunting sering terdengar meskipun banyak orang yang tidak mengetahui stuntingStunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa. Indikator gizi yang digunakan adalah tinggi badan menurut umur. Kejadian stunting pada anak merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunting pada anak dan peluang peningkatan stunting terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.

Masalah gizi pada hakikatnya merupakan masalah kesehatan masyarakat namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan hanya dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktorial. Penyebab langsung adalah makanan dan penyakit yang dapat menyebabkan gizi kurang  atau lebih. Sedangkan penyebab tidak langsung yaitu: ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai, pola pengasuhan anak yang kurang memadai, pelayanan kesehatan dan lingkungan yang kurang memadai. Hal tersebut berkaitan erat dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan maka akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan. Kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat berpengaruh pada permasalahan gizi. Sehingga masalah gizi bukan semata masalah kesehatan tetapi juga menyangkut faktor geografis,sosial ekonomi, dan pendidikan.

Dampak stunting bagi kesehatan masyarakat

  1. Anak-anak yang mengalami stunted lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunted lebih berat menjelang usia dua tahun. Stuntet  yang parah pada anak-anak akan terjadi defisit  jangka panjang dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak   mampu untuk belajar secara  optimal di  sekolah, dibandingkan anak- anak dengan tinggi badan normal. Anak-anak dengan stunted cenderung lebih lama masuk sekolah dan lebihsering absen dari sekolah dibandingkan anak-anak dengan status gizibaik. Hal ini memberikan  konsekuensi terhadap kesuksesan anak dalam  kehidupannya dimasa yang akan datang.
  2. Stunted akan sangat mempengaruhi kesehatan dan perkembanangan anak. Faktor dasar yang menyebabkan stunted dapat mengganggu pertumbuhan   dan perkembangan intelektual. Penyebab dari stunted adalah bayi berat lahir rendah, ASI yang tidak memadai, makanan  tambahan yang tidak sesuai,    diare berulang, dan infeksi pernapasan. Berdasarkan penelitian sebagian besar anak-anak dengan stunted mengkonsumsi makanan yang berada di bawah   ketentuan  rekomendasi kadar gizi, berasal dari keluarga miskin dengan jumlah keluarga banyak, bertempat tinggal di wilayah pinggiran kota dan   komunitas pedesaan.
  3. Pengaruh gizi pada anak usia dini yang mengalami stunted dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang  kurang. Anak stunted pada     usia lima tahun cenderung menetap sepanjang hidup, kegagalan pertumbuhan anak usia dini berlanjut pada masa remaja dan kemudian tumbuh menjadi wanita dewasa yang stunted dan mempengaruhi secara langsung pada kesehatan dan produktivitas, sehingga meningkatkan peluang melahirkan anak dengan BBLR. Stunted terutama berbahaya pada perempuan, karena lebih cenderung menghambat dalam proses pertumbuhan dan berisiko lebih besar meninggal saat melahirkan.

Penangan stunting dilakukan melalui  Intervensi   Spesifik dan Intervensi Sensitif pada sasaran 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak sampai berusia 6 tahun. Beberapa jenis intervensi tersebuta diantaranya:

Intervensi Gizi Spesifik

  • Intervensi yang ditujukan kepada ibu hamil dan anak dalam 1.000 haripertama kehidupan
  • Diantaranya yaitu dengan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri setiap minggu satu tablet
  • Pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil
  • Pemberian vitamin A pada ibu nifas
  • Pemberian vitamin K pada bayi baru ahir
  • Pemberian vitamin A pada balita
  • ANC minimal sekali diperiksa oleh dokter
  • Persalinan Nakes dan ditangani dengan 4 tangan
  • Penimbangan balita dengan BULAN TIMBANG sebanyak 2x pada bulan Februari dan Agustus
  • PMT ibu hamil KEK/Anemia
  • PMT Balita stunting/Gizi buruk
  • Promosi dan Konseling IMD dan ASI Eksklusif
  • Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA)
  • Pemberian Imunisasi

Intervensi Gizi Sensitif

Intervensi yang ditujukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan

  • Kelas Catin dengan bekerjasama dengan Kementerian Agama
  • Penguatan Layanan ANC dengan melibatkan forum Penakib dan melakukan berbagai aktifitas inovasi local spesifik
  • Penyediaan akses dan ketersediaan air bersih serta sarana sanitasi (jamban sehat) di keluarga
  • Pelaksanaan fortifikasi bahan pangan
  • Pendidikan dan KIE Gizi Masyarakat
  • Pemberian Pendidikan dan Pola Asuh dalam Keluarga
  • Pemantapan Akses dan Layanan KB
  • Penyediaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Jaminan Persalinan
  • Pemberian Edukasi Kespro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.