Categories: Public Health

Diagnosis Malaria

Pengertian dan Gejala Klinis Malaria

Terdapat beberapa cara penularan malaria, selain melalui gigitan nyamuk, malaria juga dapat ditularkan melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah yang mengandung sporozoit serta dari ibu hamil kepada bayinya. Berdasarkan laporan CDC (2010), terdapat 67 spesies Anopheles yang dapat menularkan malaria. Dari jumlah tersebut 22 species diantaranya berada di Indonesia.

Menurut WHO (2012), malaria merupakan penyakit disebabkan oleh parasit plasmodium,  ditularkan melalui gigitan nyamuk. Di dalam tubuh manusia, parasit tersebut menyerang limfa dan kemudian menginfeksi sel darah merah. Gejala penyakit malaria berupa demam secara periodik, sakit kepala, anemia dan terjadinya pembesaran limpa serta  berbagai gejala lain. Gejala-gejala tersebut  biasanya timbul  10 sampai 15 hari setelah gigitan nyamuk Anopheles sp.

Berbagai gejala klinis Malaria, antara lain sebagai berikut:

  1. Demam, demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporulasi). Pada malaria tertiana (P. vivax dan P. ovale), pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya terjadi setiap hari ke-3, sedangkan malaria kuartana (P. malariae) pematangannya setiap 72 jam dan periodisitas demam terjadi setiap 4 hari, ditandai dengan demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium, yaitu menggigil (15 menit – 1 jam), puncak demam (2-6 jam), dan berkeringat (2-4 jam). Demam akan mereda secara bertahap karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respons imun.
  2. Splenomegali, merupakan gejala khas malaria kronik. Gejala ini ditandai dengan kondisi limpa yang mengalami kongesti, menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat yang bertambah.
  3. Anemia, dengan derajat anemia tergantung pada sppecies penyebab, yang paling berat adalah anemia P. falciparum. Anemia ini disebabkan oleh : a.    Penghancuran eritrosit yang berlebihan; b.    Eritrosit  normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time); c.    Gangguan pembentukan eritrosit karena depresu eritropoesis dalam sumsum tulang (diseritopoesis);
  4. Ikterus, yang disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar.

Malaria laten merupakan masa pasien di luar masa serangan demam. Periode ini terjadi bila parasit tidak dapat ditemukan dalam darah tepi, tetapi stadium eksoeritrosit  masih bertahan dalam jaringan hati.

Sementara relaps merupakan timbulnya gejala infeksi setelah serangan pertama. Relaps dapat bersifat jangka pendek dan jangka panjang:

  1. Relaps jangka pendek (rekrudesensi), dapat timbul 8 minggu setelah serangan pertama bilang karena parasit dalam eritrosit yang berkembang biak
  2. Relaps jangka panjang (rekurens), dapat muncul 24 minggu atau lebih setelah serangan pertama hilang karena parasit eksoritrosit hati masuk ke darah dan berkembang biak. (Mansjoer, 2001)

Diagnosis Malaria
Diagnosis malaria dapat didasarkan pada manifestasi klinis, pemeriksaan laboratorium dengan ditemukannya parasit Plasmodium di dalam darah penderita dan atau uji imunoserologis. Manifestasi klinis demam malaria seringkali tidak khas dan menyerupai penyakit infeksi lain sehingga dapat menyulitkan dalam mendiagnosis malaria dengan hanya mengandalkan pengamatan manifestasi klinis saja, untuk itu dibutuhkan pemeriksaan laboratorium sebagai terhadap Plasmodium ( Depkes  RI, 2008).

Terdapat dua macam jenis pemeriksaan untuk keperluan diagnosis tersebut, yaitu secara mikroskopis dan rapid diagnosis test.

Pemeriksaan dengan mikroskop
Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di Puskesmas / lapangan / rumah sakit untuk menentukan: a). Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif); b). Spesies dan stadium plasmodim. C). Kepadatan parasit (semi kuantitatif dan kuantitatif). :

Kepadatan Semi kuantitatif

  • (-) : Negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB/Iapangan pandang besar)
  • (+): positif 1 (ditemukan 1 —10 parasit dalam 100 LPB)
  • (++) : positif 2 (ditemukan 11 —100 parasit dalam 100 LPB)
  • (+++) : positif 3 (ditemukan 1 —10 parasit dalam 1 LPB)
  • (++++) : positif 4 (ditemukan >10 parasit dalam 1 LPB)

Kepadatan Kuantitatif
Jumlah parasit dihitung per mikro liter darah pada sediaan darah tebal (leukosit) atau sediaan darah tipis (eritrosit).

Refference, antara lain: WHO, 2012. Malaria. World Health Organization Press Office. Geneva; Depkes RI. 2008. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria Di Indonesia (Gebrak Malaria). Dirjend P2PL; Centers for Desease Control and Prevention. 2010. Biology of Malaria, (http://www.cdc.gov.malaria)

Incoming Search Terms:

kesmas

Recent Posts

Vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia

Jenis dan gambaran karakteristik jenis vaksin covid-19 yang digunakan di Indonesia saat ini. Oleh: Munif…

12 hours ago

Update Vaksin Polio

Strategi Eradikasi Polio dengan Perubahan Jenis Vaksin Polio Berdasarkan data statistic, imunisasi merupakan upaya pencegahan…

1 day ago

Pedoman Pengendalian Demam Chikungunya

Epidemiologi, Strategi, Etiologi, Vektor, Habitat, Penyebaran, Faktor Resiko, dan Mekanisme Penularan Chikungunya Terdapat buku Pedoman…

2 days ago

Data Suveilans Kesmas

Pemanfaatan Data Suveilans dalam Praktek Kesehatan Masyarakat Berikut pengingat kembali beberapa hal terkait surveilans, yang…

2 days ago

Revisi Permenkes Tentang Pemeriksaan Swab Antigen Pada Covid-19

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/3602/2021 Tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kesehatan Nomor Hk.01.07/Menkes/446/2021…

3 days ago

Tatalaksana Gizi Buruk

Prosedur Tatalaksana Balita Gizi Buruk Pusat pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan…

3 days ago