Masa pandemi covid-19 ini, hasil swab pemeriksaan laboratorium dinanti begitu banyak orang. Ribuan orang tergantung pada hasil swab ini, setidaknya saat ini. Sampai kemudian ditemukan teknologi yang lebih aplikatif, aksestable, valid, untuk deteksi covid ini. Harus diakui teknologi yang digunakan saat ini memang masih terkesan tradisional. Kecepatan penegak diagnosis pasti ini jauh tertinggal dari penyebaran covid-19, sehingga tata laksana dan intervensi di lapangan semakin tertinggal jauh dibelakang.
Rangkaian efek domino hasil swab ini sedemikian mencemaskan banyak orang. Hasil ini akan terangkai dengan isolasi panjang, diantaranya karena untuk mengakhirinya dipersyaratkan 2 kali hasil swab negatif lagi. Dan itu perlu waktu panjang lagi, karena deretan antrian pemeriksaan kian hari juga kian mengular.
Hasil swab juga akan berimplikasi pada beban sosial tinggi bagi pasien. Ditengah belum siapnya masyarakat menerima penderita covid. Ditengah stigma sangat negatif. Ditengah ketakutan dikucilkan, dihindari, dijauhi secara sosial. Ditengah masih minimnya atensi dan empati.
Dari pilihan teknologi, diantaranya kita tentu pernah membaca informasi seoarang Santo Purnama, yang asli Indonesia , yang saat ini tinggal di Silicon Valley, California. Yang mampu memproduksi alat test Covid-19, yang akurasinya diklaim 92 % itu. Keunggulan test kit ini pada kecepatan dan kepraktisan penggunaan. Pada hasil pembacaan, dan tentu pada harga murahnya. Informasinya test kit ini unggul bukan pada alatnya, namun pada enzimnya. Seperti pada kertas lakmus untuk test pH, pun demikian prinsip kerja alat ini. Sedemikian prakis dan akurat. Jika swab specimen covid se-praktis ini, kita bisa berharap banyak pada kecepatan upaya penghentian penyebaran. Ditengah kebijakan lockdown yang masih jauh dari pilihan
Masih banyak yang harus kita diskusikan soal ini. Namun lebih baik kita lihat dulu soal swab specimen lab covid ini, mengacu pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) Revisi Ke-4 (Kemenkes RI, 2020).
Pengambilan spesimen pada PDP dan ODP untuk pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction), dilakukan sebanyak dua kali berturut-turut serta bila terjadi kondisi perburukan. Sementara pengambilan spesimen OTG (orang Tanpa Gejala), dilakukan pada hari ke-1 dan ke-14.
Jenis Spesimen Pasien COVID-19 meliputi usap Nasopharing atau Orofaring, Sputum, dan Bronchoalveolar Lavage, Tracheal aspirate, Nasopharyngeal aspirate atau nasal wash, Jaringan biopsi atau autopsi termasuk dari paru-paru, serta Serum (2 sampel yaitu akut dan konvalesen) untuk serologi’
Pengambilan Spesimen
Sebelum kegiatan pengambilan spesimen dilaksanakan, harus memperhatikan universal precaution atau kewaspadaan universal untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari pasien ke paramedis maupun lingkungan sekitar. Hal tersebut meliputi:
Berbagai informasi : Dapat dilihat pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) Revisi Ke-4 (Kemenkes RI, 2020).
by jRenk
Inspeksi Sanitasi dan Prosedur Karantina Pesawat Terbang Menurut WHO (2005), kantina adalah pembatasan kegiatan dan…
Meramal Ledakan Omicran ala Bude Oleh: Munif Arifin Bude Jamilah bertanya-tanya. Dalam hati. Benarkah…
Tinjauan Aspek Lingkungan pada Vektor Demam Berdarah Dengue (DHF) Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi…
Pengobatan Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) pada Penyakit TB Paru Situasi TB paru di dunia…
Standar, Kriteria, dan Elemen Penilaian (EP) Perencanaan Terpadu Pelayanan UKM pada Standar Akreditasi Puskesmas Tahun…
tak usah terlalu risau brader, urip kui wang sinawang kuncine mung syukur lan update status…