Penyakit diare sering kali dikaitkan dengan status kesehatan lingkungan. Diare juga identik dengan jamban. Data dan studi epidemiologi memang kuat menghubungkan fakta tersebut.
Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang, terutama di Indonesia baik di perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit diare bersifat endemis juga sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan diikuti korban yang tidak sedikit. Untuk mengatasi penyakit diare dalam masyarakat baik tata laksana kasus maupun untuk pencegahannya sudah cukup dikuasai. Akan tetapi permasalahan tentang penyakit diare masih merupakan masalah yang relatif besar (Suraatmaja, 2010).
Angka kesakitan diare sekitar 200-400 kejadian di antara 1000 penduduk setiap tahunnya. Dengan demikian di Indonesia dapat ditemukan sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah Anak di bawah Lima Tahun (BALITA). Sebagian dari penderita (1- 2%) akan jatuh ke dalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50- 60% di antaranya dapat meninggal. Kelompok ini setiap tahunnya mengalami kejadian lebih dari satu kejadian diare.
Sampai saat ini penyakit diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian, khususnya pada bayi dan balita di Indonesia. Pemerintah telah menerapkan berbagai strategi pemberantasan dan pengendalian penyakit diare ini. Beberapa dasar pelaksanaan pemberantasan penyakit ini antara lain :
Beberapa point dari peraturan diatas antara lain ditargetkan Case Fatality Rate (CFR) diare pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB) kurang dari 1 dan jumlah kasus diare sebanyak 285 per 1000 penduduk.
Beberapa perilaku menyebabkan penyebaran kuman enterik dan dapat meningkatkan resiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.
Sementara faktor penjamu, dapat meningkatkan insiden, beberapa penyakit dan lamanya diare. Faktor-faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, campak, dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.
Sedangkan berdasarkan faktor lingkungan, penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan penyakit diare (Sudaryat, 2010).
Referrence, antara lain : Sudaryat, S., 2010, Gastroenterologi Anak Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas UNUD; Depkes RI. 2009. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare; Depkes RI. 2010, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No HK.03.01/160/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010; Depkes RI. 2001, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor1 216/Menkes/SK/X1/2001 tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare; Depkes RI. 2008, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 852/Menkes/SK/IX/2009 tentang Strategi Nasional Total Berbasis Masyarakat
Gambaran klinis, Etiologi, Masa inkubasi, Sumber dan cara penularan, Pengobatan, Epidemiologi, KLB dan Penanggulangan Difteri…
Indikator Kualitas Bakteriologis Makanan Sebagaimana kita ketahui bahwa sanitasi makanan, khususnya hygiene dan sanitasi tempat…
Menunggu, Gagal Tunggu Istithaah Bagaimana seseorang yang sudah menunggu berpuluh tahun gagal berangkat haji ketika…
Kebutuhan Tim Tanggap Darurat Bencana Bidang Kesehatan Kejadian bencana selalu menimbulkan krisis kesehatan, maka penanganannya…
KLB Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), dan Masalah Kesehatan Masyarakat Seluruh masalah kesehatan punya karakteristik…
Faktor Pencetus dan factor yang berpengaruh terhadap Kejadian Pasca Imunisasi (KIPI) Peningkatan penggunaan vaksin berpotensi…
View Comments
terima kasih infonya....buat referensi saya
mas ane mau tanyak,ini blogger sendiri atau situs yang resmi ?