Covid-19

Vaksin Merah Putih

Vaksin Lokal Kualitas Global

Oleh: Munif-A

Mengapa demikian?

Begini ceritanya menurut Bude Jamilah.

Pertama, karena vaksin ini berbahan baku lokal. Seluruh virus yang disemai, dilemahkan, dan diikat dari virus setempat.

Bude Jamilah membayangkan, jauh lebih pas jika vaksin setempat disuntikkan sasaran setempat,  Respon tubuh lebih predictable. Pun demikian dengan kekebalan yang ditimbulkan.

Hitungan amatir bude menyimpulkan: khasiat vaksin akan cess pleng. Evikasi maksimal. KIPI minimal.

Kedua, karena dia lahir saat virus ini agaknya sudah lelah bermanuver.

Dia lahir ketika trend mutasi tidak lagi terlalu liar. Virus sudah relatif stabil. Kita tentu pernah mendengar sebagian perdebatan panjang soal urgensi vaksin saat awal pandemi karena faktor ini.

Kita tidak lagi mendengar mutant baru yang fenomenal. Setelah generasi Alfa, Delta, dan Omicron. Beberapa mutasi susulan disebut para cerdik pandai sebagai sebuah turunan.

Sebagai pendatang baru (menurut analisa sok tahu bude), tantangan terbesar mengikat Corona-2019 ini menjadi vaksin tentu soal mutasi. Sebagaimana pengalaman seluruh generasi vaksin sebelum vaksin covid ini.

Bisa dibayangkan, bagaimana antibodi dalam tubuh hasil stimulasi vaksin yang disuntikkan, tiba-tiba tergagap mengatur formasi karena serangan virus yang tidak sepenuhnya mereka kenali (mutasi). Tentu sangat bisa diterima akal jika sebagian mereka tak berdaya, setengah berdaya, atau bahkan tak bergejala.

Bude memperkirakan, tantangan diatas relatif tidak dialami vaksin merah putih ini.

Ketiga, karena para cerdik pandai  Unair punya jeda waktu lebih lama mempersiapkan vaksin ini. Sementara bude yakin standard kompetensi, teknologi, relatif sama dengan para peneliti generasi vaksin covid yang lahir sebelum ini. Dua keuntungan itu menurut Bude menjadi value added Merah Putih.

Starting point relatif sama. Karena seluruh penduduk bumi adalah praktisi covid-19. Demikianlah sehingga di declair sebagai Pandemi.

Seluruh potensi kampung ini sudah berjuang sesuai maqomnya masing-masing. Seperti:  pengelola  kampung dengan heroiknya menghimbau, menegakkan seluruh upaya yang memungkinkan, untuk mencegah penularan.  Orang tua sibuk menjaga anak. Lembaga sekolah, tempat hiburan dan wisata, serta seluruh kegiatan yang berpotensi sebagai tempat berkumpul banyak orang, hampir seluruhnya tiarap. Dan dalam sekejap kita sudah akrab dengan budaya daring.

Disisi lain, tenaga kesehatan berjibaku  dengan komorbid dan saturasi oksigen.  Berkampanye serius sepenuh hati soal prokes, testing, dan tracing. Dan seterusnya.

Sementara diujung lain, para pejuang peneliti kita sejak awal sudah serius membaca gerak gerik liar virus ini. Mereka berbulan-bulan harus makan dan tidur di laboratorium. Menyimak takzim.

Terus mencoba memahami makhluk nano ciptaan agung-Nya ini.

Bude melengkapi ilustrasi konstruksi alam fikirnya dengan berbagai pertanyaan, bagaimana kompleknya tahapan yang harus dilalui untuk melahirkan vaksin. Dengan ribuan sheet data hasil uji laboratorium. Ribuan subyek uji pra klinis, beberapa tahapan uji klinis, dan pasca klinis. Bagaimana harus mengintegrasikan seluruh data dan tahapan itu dengan persyaratan keamanan, imunogenisitas, evikasi, serta efektifitas vaksin yang diciptakan.

Belum lagi beratnya tantangan administrasi untuk mendapatkan lisensi (baca Emergency Use Authorization). Seperti bagaimana menyusun informasi menyeluruh tentang sifat kimia dan struktural vaksin. Bagaimana menyusun dan menganalisa seluruh hasil uji praklinis dan klinis. Bagaimana dokumen jaminan kualitas manufaktur harus disusun. Syarat vial dan spuit. Syarat rantai dingin penyimpanan. Dan seterusnya.

Ke-empat, vaksin ini lahir tepat momentum.  Karena puzzle herd imunity sudah relatif tersusun.

Baik karena kinerja vaksin pendahulu Merah Putih. Maupun karena ujian demam dan penurunan saturasi oksigen karena terpapar sakit.

Kontribusi besar vaksin ini diperkirakan pada tahap vaksinasi ulangan. Sebagaimana kita ketahui, hampir seluruh vaksin yang sudah beredar selama ini membutuhkan dosis booster. Dosis ini diperlukan untuk mempertahankan kadar antibodi. Sebutlah seperti vaksin influenza yang bertahan selama 1 tahun. Atau vaksin meningitis selama dua tahun. Dan seterusnya.

Berdasarkan hal itu, sebetulnya Bude sangat tidak mempermasalahkan hari baik launching vaksin ini. Kapanpun baik.

Karena sebagian besar sudah kelihatan baik.

kesmas

Recent Posts

Epidemiologi Semeru

Erupsi dan surveilans epidemiologi Di penghujung tahun 2021, tepatnya tanggal 4 Desember 2021 kampung Bude…

17 hours ago

Omicron

Berandai-andai pada Omicron Sampai saat ini, Bude Jamilah masih konsisten mengikuti alur pandemi. Lengkap dengan…

1 day ago

Form Inspeksi Sanitasi TTU

Kumpulan checklist Inspeksi Sanitasi Tempat-Tempat Umum Sehubungan dengan seringnya menerima email komplain broken link pada…

2 days ago

Aspek Manajemen Kesehatan

Pengertian dan Aspek Manajemen Kesehatan Manajement adalah suatu proses, yang terdiri dari kegiatan pengaturan, perencanaan,…

2 days ago

Rekomendasi IDAI Pemberian Vaksin COVID-19 pada anak usia 6-11 Tahun

Download Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Pemberian Vaksin COVID-19 (Coronavac) pada anak usia 6-11 Tahun…

3 days ago

Vaksinasi Covid-19 Anak Usia 6-11 Tahun

Download Kepmenkes Nomor HK.01.07/MENKES/6688/2021 Tentang Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Bagi Anak Usia…

3 days ago