Survey Kepadatan Nyamuk

Pengendalian Vektor dengan Survey Kepadatan Nyamuk Dewasa

Kita mungkin terbiasa dengan survey jentik, namun kurang terbiasa dengan survey nyamuk. Teori dan praktikum survey nyamuk pasti sudah pernah kita dapatkan ketika pendidikan dulu. Namun kegiatan ini jarang kita lakukan, antara lain karena keterbatasan sarana dan sistem tindak lanjut yang kurang aplikatif. Misalnya jika data survey sudah kita dapatkan (jenis nyamuk dan lainnya), kemudian harus kita gunakan untuk apa data ini. Hal ini berbeda dengan survey jentik sebagai salah satu tahap penyelidikan epidemiologi pada kasus demam berdarah dengue misalnya, maka sistem tindak lanjutnya praktis akan terkait dengan kriteria gerakan PSN atau perlu tidaknya tindakan fogging.

Sementara ini survey nyamuk yang kita lakukan pada umumnya terkait dengan pengerjaan tugas penelitian dan bersifat insidentil, seperti penyusunan tugas akhir, skripsi, atau thesis. Dan hasilnya bersifat menambah wacana keilmuan, kemudian raib tidak berbekas. Padahal jika kita gunakan data-data itu, secara praktis dapat kita gunakan misalnya untuk penilaian tingkat resistensi nyamuk terhadap insektisida, dosis yang harus kita aplikasikan pada fogging, waktu paling efektif melakukan fogging, pola pemberantasan biologis yang memungkinkan, dan lain sebagainya. Sementara kebanyakan kita berasumsi teori terkait hal tersebut tidak berubah dari jaman kita sekolah dulu.

Artikel ini mungkin dapat mengingatkan kembali tentang survey nyamuk. Saya jadi teringat ketika menempuh pendidikan di Akademi Kesehatan Lingkungan Surabaya (sekarang Poltekes Kemenkes). Pada saat ujian lisan, mungkin karena grogi, seorang teman ketika ditanya prosedur  menangkap tikus, dia menjawab antara lain dilakukan dengan cara umpan badan, maka meledaklah tawa kita ketika itu. Tentu umpan badan yang dimaksud ketika itu sebagai prosedur tangkap nyamuk pada mata kuliah pengendalian vektor, bukan tangkap tikus.

Survey nyamuk dengan kegiatan tangkap nyamuk dilakukan pada sasaran sampel rumah penduduk baik di dalam maupun di luar rumah. Terdapat dua macam jenis penangkapan nyamuk berdasarkan kebiasaaan nyamuk.

  1. Landing collection, yaitu penangkapan nyamuk yang hinggap, dilakukan selama 20 menit untuk setiap rumah.
  2. Resting collection, yaitu penangkapan nyamuk yang istirahat, dilakukan selama 5 menit pada setiap rumah.

Prosedur dan Metode Penangkapan Nyamuk

Penangkapan nyamuk dilakukan pada masa aktif nyamuk mencari inang atau mengisap darah, misalnya pada jenis nyamuk Aedes, dilakukan pada pukul 08.00-11.00 WIB. Sedangkan jika sasaran penangkapan nyamuk kita adalah Anopheles, maka beberapa pertimbangan terkait bionomik Anopheles harus kita jadikan sebagai dasar penentuan waktu dan sasaran.

Penangkapan nyamuk dewasa dilakukan oleh dua orang kolektor, masing-masing satu orang melakukan penangkapan nyamuk di dalam dan satu orang lagi di luar rumah. Setiap kolektor berperan sebagai umpan dan sekaligus penangkap. Setiap kolektor duduk dalam suatu ruangan yang ditentukan (dalam rumah) atau di halaman rumah (luar rumah). Sementara prosedur penangkap (umpan badan) diantaranya dengan menggulung ujung celana sampai ke lutut, tidak beralas  kaki, dan tidak makan, tidak menggunakan parfum atau repellent, tidak makan minum atau merokok. Ketika terdapat nyamuk maka ketika nyamuk hinggap sebelum menggigit (landing), nyamuk ditangkap dengan menggunakan aspirator, kemudian ditempatkan dalam paper cup.

Sementara prosedur penangkapan nyamuk istirahat (resting place) dilakukan menggunakan aspirator selama lima menit pada nyamuk yang hinggap dalam rumah, seperti pada dinding, gantungan baju, dan lain sebagainya. Sedangkan pada lokasi luar rumah antara lain pada tempat-tempat seperti pada tanaman, pagar, sekitar ternak, dan lain sebagainya. Kemudian dilakuakn pembiusan pada nyamuk yang tertangkap menggunakan khlorofom untuk kemudian dilakukan pinning dan proses identifikasi.

Jika kita simpulkan beberapa penjelasa diatas maka prosedur tangkap nyamuk secara ringkas dapat kita tulisakan sebagai berikut :

Beberapa Bahan yang digunakan pada kegiatan survey nyamuk antara lain : Paper cup, Kertas Label, Alat tulis, dan Khlorofom. Sedangkan alat yang digunakan berupa Aspirator.

Prosedur Kerja

  1. Menentukan wilayah yang akan disurvey
  2. Menyiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan untuk
  3. Pemasangan umpan badan
  4. Melakukan penangkapan nyamuk dengan aspirator antara lain pada feeding place dan resting place baik di dalam maupun diluar rumah.
  5. Nyamuk yang tertangkap dimasukkan ke dalam papercup, kemudian diberi label dengan informasi tentang lokasi, jam, tanggal dan nama collector.
  6. Survey dilakukan selama 6 jam, dengan waktu optimalnya 40 menit setiap jamnya.
  7. Pencatatan hasil perhitungan kepadatan nyamuk.
  8. Menyusun laporan hasil survey.

Sedangkan perhitungan kepadatan nyamuk (Man Hour Density) dihitung menggunkan formula berikut :

                                                    MHD (Man Hour Density)        :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.