Etiologi dan Pengobatan Leptospirosis

Definisi, Kriteria, Gambaran Klinis, Etiologi, dan Pengobatan Leptospirosis

Leptospirosis is a bacterial disease that affects humans and animals. It is caused by bacteria of the genus Leptospira. In humans, it can cause a wide range of symptoms, some of which may be mistaken for other diseases. Some infected persons, however, may have no symptoms at all (CDC).

Penyakit leptospirosis pada umumnya menyerang petani, pekerja perkebunan, pelajar, pekerja tambang / selokan, pekerja rumah potong hewan dan militer. Daerah yang rawan banjir, pasang surut dan areal persawahan, perkebunan, peternakan memerlukan pengamatan intensif untuk mengontrol kejadian Leptospirosis di masyarakat.

Definisi dan Kriteria Diagnosis Letospirosis

Definisi Kasus: Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akut disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan spektrum penyakit yang luas dan dapat menyebabkan kematian.

Kriteria kasus: Ada 3 (tiga) kriteria yang ditetapkan dalam mendefinisikan kasus Leptospirosis yaitu:

Kasus Suspek:  Demam akut dengan atau tanpa sakit kepala disertai : Nyeri otot, Lemah (Malaise) dengan atau tanpa, dan Conjungtival suffusion (mata merah tanpa eksudat) DAN

  • Ada riwayat terpapar lingkungan yang terkontaminasi atau aktifitas yang merupakan faktor risiko Leptospirosis dalam 2 minggu sebelumnya :
  • Kontak dengan air yang terkontaminasi kuman Leptospira/ urine tikus saat terjadi banjir.
  • Kontak dengan sungai, danau dalam aktifitas mencuci, mandi berkaitan pekerjaan seperti tukang perahu, rakit bambu dan lain-lain
  • Kontak di persawahan atau perkebunan berkaitan dengan pekerjaan sebagai petani/pekerja perkebunan yang tidak mengunakan alas kaki.
  • Kontak erat dengan binatang lain seperti babi, sapi, kambing, anjing yang dinyatakan secara Laboratorium terinfeksi Leptospira.
  • Terpapar seperti menyentuh hewan mati, kontak dengan cairan infeksius saat hewan berkemih, menyentuh bahan lain seperti placenta, cairan amnion, menangani ternak seperti memerah susu, menolong hewan melahirkan, dll.
  • Memegang atau menangani spesimen hewan/manusia yang diduga terinfeksi Leptospirosis dalam suatu laboratorium atau tempat lainnya.
  • Pekerjaan yang berkaitan dengan kontak dengan sumber infeksi seperti dokter hewan, dokter, perawat, pekerja potong hewan, pekerja petshop, petani, pekerja perkebunan, petugas kebersihan di rumah sakit, pembersih selokan, pekerja tambang,pekerja tambak udang/ikan air tawar, tentara, pemburu, tim penyelamat lingkungan (SAR).
  • Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan hobby dan olah raga seperti pendaki gunung, trekking hutan, memancing, berenang, arung jeram, trilomba juang (triathlon).

Kasus Probable,

  • Kasus suspek dengan minimal 2 gejala/tanda klinis sebagai berikut : Nyeri betis
  • Ikterus, Oliguria/anuri, Manifestasi perdarahan, Sesak nafas, Aritmia jantung, Batuk dengan atau tanpa hemoptysis, Ruam kulit
  • Kasus suspek dengan RDT (untuk mendeteksi IgM anti Leptospira) positif, atau
  • Kasus suspek dengan 3 dari gambaran laboratorium : Trombositopenia <100 000 sel/mm, Lekositosis dengan neutropilia > 80%, Kenaikan bilirubin total > 2gr%, atau amilase atau CPK, Pemeriksaan urine proteinuria da n/ata u hematuria

 Kasus Konfirmasi, Kasus suspek atau kasus probable disertai salah satu dari berikut ini:

  • Isolasi bakteri Leptospira dari spesimen klinik
  • PCR positif
  • Sero konversi MAT dari negatif menjadi positif atau adanya kenaikan titer 4x dari pemeriksaan awal
  • Titer MAT 320 (400) atau lebih pada pemeriksaan satu sampel

GAMBARAN KLINIS

Leptospirosis terbagi menjadi 2 berdasarkan diagnosa klinik dan penanganannya :

  1. Leptospirosis anikterik : kasusnya mencapai 90% dari seluruh kasus leptopsirosis yang Biasanya penderita tidak berobat karena gejala yang timbul bias sangat ringan dan sebagian penderita sembuh dengan sendirinya.
  2. Leptospirosis ikterik ; menyebabkan kematian 30-50% dari seluruh kematian yang dilaporkan karena leptospirosis.

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh penyakit Leptospirosis terbagi menjadi 3 fase, yaitu :

  1. Fase Leptospiremia ( 3 – 7 hari), terjadi demam tinggi, nyeri kepala, myalgia, nyeri perut, m ual, mu ntah, conjuctiva suffusion.
  2. Fase immune ( 3 – 30 hari), terjadi demam ringan, nyeri kepala, muntah, meningitis
  3. Fase Konvalesen (15 – 30 hari), terjadi perbaikan kondisi fisik berupa pulihnya kesadaran, menghilangnya ikterus, tekanan darah normal, produksi urine mulai normal.

Pada Penderita Leptospirosis dapat menimbulkan komplikasi :

  1. Pada ginjal : terjadi Acute Renal Failure, melalui mekanisme invasi leptospira menyebabkan kerusakan tubulus dan glomerulus. Kemudian terjadi reaksi immunology yang sangat cepat yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya reaksi non spesifik terhadap infeksi (iskemia ginjal).
  2. Pada mata : terjadi infeksi konjungtiva.
  3. Pada hati : terjadi jaundice (Kekuningan) setelah hari keempat dan keenam dengan adanya pembesaran hati (Hepatomegali) dan konsistensinya lunak.
  4. Pada Jantung : terjadi aritmia, dilatasi jantung dan gagal jantung.
  5. Pada Paru : terjadi haemorhagic pneumonitis dengan batuk darah, nyeri dada dan cyanosis, ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome)
  6. Perdarahan (Hematesis, Melena)
  7. Infeksi pada kehamilan : terjadi abortus dan kematian fetus (still birth)
  8. Komplikasi lain, meliputi kejadian cerebrovaskuler, rhabdomyolisis, purpura trombotik trombositopenia, cholecystitis calculus acute, erythemanodosum, stenosis aorta syndrome Kawasaki, arthritis  reactive, epididimitis,  kelumpuhan syaraf, hypogonadisme pria dan Guillain – Barre Syndrome.

ETIOLOGI

Leptospira yang sudah masuk ke dalam tubuh dapat berkembang dan memperbanyak diri serta menyebar ke organ tubuh. Setelah dijumpai leptospira di dalam darah (fase leptospiremia) akan menyebabkan terjadinya kerusakan endotel kapiler (vasculitis).

Masa Inkubasi Masa inkubasi Leptospirosis antara 2 – 30 hari, biasanya rata – rata 7 – 10 hari.

Sumber dan Cara Penularan

Risiko manusia terinfeksi tergantung pada paparan terhadap faktor risiko. Beberapa manusia memiliki risiko tinggi terpapar Leptospirosis karena pekerjaannya, lingkungan dimana mereka tinggal atau gaya hidup. Kelompok pekerjaan utama yang berisiko yaitu petani atau pekerja perkebunan, petugas petshop, peternak, petugas pembersih saluran air, pekerja pemotongan hewan, pengolah daging dan militer. Kelompok lain yang memiliki risiko tinggi terinfeksi Leptospirosis yaitu bencana alam seperti banjir dan peningkatan jumlah manusia yang melakukan olahraga rekreasi air.

Manusia dapat terinfeksi Leptospirosis karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi Leptospira.

Penularan Langsung:

  1. Melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman Leptospira masuk ke dalam tubuh pejamu.
  2. Dari hewan ke manusia merupakan penyakit akibat pekerjaan, terjadi pada orang yang merawat hewan atau menangani organ tubuh hewan misalnya pekerja potong hewan, atau seseorang yang tertular dari hewan peliharaannya.
  3. Dari manusia ke manusia meskipun jarang, dapat terjadi melalui hubungan seksual pada masa konvalesen atau dari ibu penderita Leptospirosis ke janin melalui sawar plasenta dan air susu ibu.

Penularan tidak langsung

Terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan

Untuk daerah endemis atau terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), pengobatan dengan antibiotika yang sesuai dilakukan sejak KASUS SUSPEK DITEGAKKAN SECARA KLINIS. Sedangkan untuk daerah bukan endemis dan KLB pengobatan dilakukan setelah dinyatakan KASUS PROBABEL DITEGAKKAN.

PENGOBATAN

Terapi untuk kasus Leptospirosis ringan, dengan Doksisiklin 2x100mg selama7 (tujuh) hari kecuali pada anak, ibu hamil, atau bila ada kontraind ikasi Doksisiklin. Alternatif, jika tidak dapat diberikan doksisiklin, dengan Amoksisilin 3x500mg/haripada orang dewasa, atau 10-20mg/kgBB per 8 jam pada anak selama 7 (tujuh) hari. Jika alergi Amoksisilin dapat diberikan Makrolid

Terapi kasus Leptospirosis berat, dengan Ceftriaxon 1-2 gram iv selama7 (tujuh) hari; Penisilin Prokain 1.5 juta unit im per 6 jam selama7 (tujuh) hari; Ampisilin 4 x 1 gram iv per hari selama7 (tujuh) hari. Terapi suportif dibutuhkan bila ada komplikasi seperti gagal ginjal, perdarahan organ (paru, saluran cerna, saluran kemih, sere bral), syok dan gangguan neurologi.

Sistem Rujukan: Indikasi kasus yang dirujuk ke rumah sakit Kabupaten atau provinsi yang memiliki fasilitas perawatan intensif:  Leptospirosis berat yaitu kasus suspek dan kasus probable yang disertai gejala/tanda klinis ikterus, manifestasi perdarahan, anuria/oliguria, sesak nafas, atau aritmia jantung. Mempunyai fasilitas ruang perawatan intensif, dialisis dll untuk menangani komplikasi gagal ginjal, ARDS, dan perdarahan paru.

Profilaksis: Saat ini belum ada kebijakan dari Kementrian Kesehatan perihal tata cara profilaksis, mengingat Leptospirosis apabila cepat dalam diagnosa relatif mudah disembuhkan dengan antibiotik.

 

Sumber :

Buku Pedoman Penyelidikan Dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular Dan Keracunan Pangan, (Pedoman Epidemiologi Penyakit), Edisi revisi tahun 2017, Katalog Terbitan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.