Epidemiologi Hepatitis A

Etiologi, Penyebab, Reservoar, dan Cara Penularan Hepatitis A

Secara umum kita mengetahui, penyebaran virus hepatitis A terutama terjadi secara vecal oral. Penyebaran ini biasanya terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. Banyak kejadian menunjukkan, bahwa di negara-negara berkembang sering terjadi wabah hepatitis A yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan.
epidemiologi hepatitis A
Secara definisi, hepatitis adalah proses peradangan difus pada jaringan hati dengan penyebabnya adalah virus (Virus Hepatitis A, B, C, D, E, F dan G, juga Cytomegalovirus, Epstein Barr, Rubella, Yellow Fever, Coxakie, dan lain-lain), bakteri maupun induksi dari obat-obatan. Sedangkan hepatitis viral adalah suatu penyakit infeksi oleh viral yang memberikan suatu spectrum tanda-tanda manifestasi laboratorium yang luas.

Sementara secara etiologi, menurut PAPDI (1996), ikterus epidemik (hepatitis) dilaporkan pertama kali oleh Hipocrates, kemudian banyak laporan tentang epidemi penyakit ini terutama pada saat perang dunia ke-2. Semakin meningkatnya pengetahuan dibidang kedokteran, klasifikasi dari virus hepatitis semakin bertambah. Sebagian besar kasus dari hepatitis viral  akut disebabkan oleh salah satu virus hepatitis yaitu Viru Hepatitis A, B, C, D, E dan G.

Menurut Chin J (2006), penyebab hepatitis A adalah karena virus yang disebut juga sebagai Infectious Hepatitis, Epidemic Hepatitis, Epidemic Jaundice, Catarrhal jaundice, Hepetitis Tipe A atau HA . Pada wilayah non endemis, gejala hepatitis A pada orang dewasa biasanya ditandai dengan demam, malaise, anoreksia, nausea dan gangguan abdominal, diikuti dengan munculnya ikterus dalam beberapa hari. Di sebagain besar negara bekembang, infeksi virus hepatitsi A terjadi pada masa kanak-kanak umumnya asimtomatis atau dengan gejala sakit ringan. Infeksi yang terjadi pada usia selanjutnya hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium terhadap fungsi hati. Penyakit ini mempunyai gejala klinis dengan spektrum yang bervariasi mulai dari ringan yang sembuh dalam 1-2 minggu sampai dengan penyakit dengan gejala yang berat yang berlangsung sampai beberapa bulan.

Perjalanan penyakit yang berkepanjangan dan kambuh kembali dapat terjadi dan penyakit berlangsung lebih dari 1 tahun ditemukan pada 15% kasus, tidak ada infeksi kronis pada hepatitis A. Konvalesens sering berlangsung lebih lama. Pada umumnya, penyakit semakin berat dengan bertambahnya umur, namun penyembuhan secara sempurna tanpa gejala sisa dapat terjadi.

Kematian kasus dilaporkan terjadi berkisar antara 0.1% – 0.3%, meskipun kematian meningkat menjadi 1.8% pada orang dewasa dengan usia lebih dari 50 tahun, seseorang dengan penyakit hati kronis apabila terserang hepatitis A akan meningkat risikonya untuk menjadi hepatitis A fulminan yang fatal. Pada umumnya, hepatitis A dianggap sebagai penyakit dengan case fatality rate yang relatif rendah.

Masih menurut Chin J (2006), diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya antibodi IgM terhadap virus hepatitis A (IgM anti-HAV) pada serum sebagai pertanda yang bersangkutan menderita penyakit akut atau penderita ini baru saja sembuh. IgM anti-HAV terdeteksi dalam waktu 5-10 hari setelah terpajan. Diagnosa juga dapat ditegakkan dengan meningkatnya titer antibodi spesifik 4 kali atau lebih dalam pasangan serum, antibodi dapat dideteksi dengan RIA atau ELISA. (Kit untuk pemeriksaan IgM dan antibodi total dari virus tersedia luas secara komersial). Apabila pemeriksaan laboratorium tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka bukti-bukti epidemiologis sudah dapat mendukung diagnosis.

Epidemiologi dan Penyebab Hepatitis A
Hepatitis A disebabkan karena virus hepatitis A (HAV). Virus ini merupakan picornavirus yang berukuran 27-nm (merupakan virus positive strain RNA). Virus tersebut dikelompokan kedalam Hepatovirus, anggota famili Picornaviridae.  Virion ini memiliki kapsul polipeptida, didesain dari VP1 sampai VP4, dimana setelah translasi pembelahan dari poli protein memproduksi 7500 genomnukleotida. Virus akan inaktif bila dilakukan perebusan selama 1 menit, kontak dengan formaldehid dan klorida atau dengan radiasi ultraviolet.

Menurut Rahardjo B.S (2003), insiden kasus hepatitis A dipengaruhi oleh umur, ras (suku), sosio-ekonomi dan geografi suatu daerah. Insiden terbesar ditemukan pada usia < 15 tahun. Lali-laki mempunyai resiko yang lebih tinggi dibandingkan wanita. Lebih sering menyerang manusia dengan daya tahan tubuh yang rendah, meskipun demikian penyakit ini lebih sering didapatkan pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Laporan mengenai epidemi sering didapatkan pada suatu institusi, barak militer, restauran dan pusat pengasuhan anak.

Sementara menurut US. Food Drug Administration (2005), penyebaran HAV dari orang ke orang dapat meningkat karena masalah personal hygiene yang buruk, kepadatan penduduk, serta pada kasus serangan sporadik pada makanan yang terkontaminasi secara besar, air minum, susu dan ikan laut. Penyebaran pada keluarga dan teman dekat juga sering terjadi. Observasi epidemiologi diperkirakan bahwa predileksi hepatitis A terjadi pada akhir musim gugur dan awal musim dingin sedangkan pada daerah yang beriklim sedang, gelombang epidemik hepatitis A terjadi setiap 5 sampai 20 tahun pada populasi baru yang tidak di imunisasi.

Menurut Chin J (2006), pada negara sedang berkembang, orang dewasa biasanya sudah kebal dan wabah hepatitis A (HA) jarang terjadi. Namun adanya perbaikan sanitasi lingkungan di sebagian besar negara di dunia ternyata membuat penduduk golongan dewasa muda menjadi lebih rentan sehingga frekuensi terjadi KLB cenderung meningkat. Di negara-negara maju, penularan penyakit sering terjadi karena kontak dalam lingkungan keluarga dan kontak seksual dengan penderita akut, dan juga muncul secara sporadis di tempat-tempat penitipan anak usia sebaya, menyerang wisatawan yang bepergian ke negara dimana penyakit tersebut endemis, menyerang pengguna suntikan pecandu obat terlarang dan pria homoseksual. Didaerah dengan sanitasi lingkungan yang rendah, infeksi umumnya terjadi  pada usia sangat muda. Di Amerika Serikat, 33% dari masyarakat umum terbukti secara serologis sudah pernah terinfeksi HAV.

Sementara di negara maju wabah sering berjalan dengan sangat lambat, biasanya meliputi wilayah geografis yang luas dan berlangsung dalam beberapa bulan; wabah dengan pola ”Common source” dapat meluas dengan cepat. Di Amerika Serikat, puncak siklus wabah secara nasional terjadi pada tahun 1961, 1971 dan 1989. Selama terjadi KLB, petugas dan para pengunjung tempat penitipan anak, pria dengan banyak pasangan seksual dan para pecandu Napza yang menggunakan suntikan mempunyai risiko lebih tinggi tertulari daripada penduduk pada umumnya. Namun, hampir separuh dari kasus, dan sumber infeksi tidak diketahui.

Menurut Depkes RI (2000), hepatitis A sangat umum menyerang anak-anak sekolah dan dewasa muda.  Pada tahun-tahun belakangan ini, KLB yang sangat luas penularannya umumnya terjadi di masyarakat, namum KLB karena pola penularan ”Common source” berkaitan dengan makanan yang terkontaminasi oleh penjamah makanan dan produk makanan yang terkontaminasi tetap saja terjadi. KLB pernah dilaporkan terjadi diantara orang-orang yang bekerja dengan primata yang hidup liar.

Reservoir dan Cara Penularan Hepatitis A
Reservoar utama hepatitis A adalah manusia, karena jarang terjadi pada simpanse dan primata bukan manusia yang lain. Sedangkan cara penularan, dapat terjadi dari orang ke orang melalui rute fekal-oral, makanan. Penularan melalui air dan parenteral jarang ditemukan. Virus ditemukan pada tinja, mencapai puncak 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala dan berkurang secara cepat setelah gejala disfungsi hati muncul bersamaan dengan munculnya sirkulasi antibodi HAV dalam darah.

Menurut Sumber Chin J (2006), KLB dengan pola ”Common source”umumnya dikaitkan dengan air yang tercemar, makanan yang tercemar oleh penjamah makanan, termasuk makanan yang tidak dimasak atau makanan matang yang tidak dikelola dengan baik sebelum dihidangkan; karena mengkonsumsi kerang (cumi) mentah atau tidak matang dari air yang tercemar dan karena mengkonsumsi produk yang tercemar seperti sla (lettuce) dan strawberi. Beberapa KLB di Amerika Serikat dan Eropa dikaitkan dengan penggunaan obat terlarang dengan jarum suntik mauoun tanpa jarum suntik dikalangan para pecandu. Meskipun jarang, pernah dilaporkan terjadi penularan melalui transfunsi darah dan faktor pembekuan darah yang berasal dari donor viremik dalam masa inkubasi.

Masa Inkubasi dan Resiko Penularan hepatitis A
Menurut Sylvia dan Lorrainne (2003), masa inkubasi dari virus hepatitis terjadi selama 15-45 hari, rata-rata 28-30 hari setelah pemaparan dengan virus. Virus ini terbatas melakukan replikasi di hati, tapi juga didapatkan di organ lain seperti kandung empedu, darah dan tulang setelah masa inkubasi dari penyakit. Sedangkan berdasarkan resiko penularan, berbagai penelitian tentang cara-cara penularan pada manusia dan dari berbagai bukti epidemiologis menunjukkan bahwa infektivitas maksimum terjadi pada hari-hari terakhir dari separuh masa inkubasi dan terus berlanjut sampai beberapa hari setelah timbulnya ikterus (atau pada puncak aktivitas aminotransferase pada kasus anicteric). Pada sebagian besar kasus kemungkinan tidak menular pada minggu pertama setelah ikterus, meskipun ekskresi virus berlangsung lebih lama (sampai 6 bulan) telah dilaporkan terjadi pada bayi dan anak-anak.

Ekskresi kronis HAV dalam tinja tidak pernah dilaporkan terjadi. Resiko penularan  terjadi pada kondisi sanitasi yang buruk, daerah padat seperti poliklinik, rumah sakit jiwa, jasa boga terinfeksi, pekerja layanan kesehatan, wisatawan internasional, pengguna obat, hubungan seksual dengan orang terinfeksi dan daerah endemis. Semua orang rentan terhadap infeksi. Penyakit ini pada bayi dan anak-anak prasekolah jarang sekali menunjukkan gejala klinis, hal ini sebagai bukti bahwa infeksi ringan dan anicteric umum terjadi. Imunitas homologous setelah mengalami infeksi mungkin berlangsung seumur hidup.

Incoming Search Terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *