Epidemiologi Penyakit Difteri

Imunisasi dan Epidemiologi Difteri

Difteri adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang saluran pernafasan bagian atas seperti tonsil, faring, laring, hidung, namun ada juga yang menyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang konjungtiva atau vagina.

Diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita di Indonesia adalah akibat PD3I. Laporan WHO menggambarkan bahwa hasil evaluasi kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Indonesia tahun 1972 diperkirakan setiap tahun 5000 anak meninggal karena difteri dan penemuan kasus difteri tenggorok pada balita sebanyak 28.500 kasus.

Tanda khas yang membedakan difteri dengan penyakit saluran pernafasan lainnya adalah dengan terbentuknya pseudomembran dan mengeluarkan eksotoksin. Pseudomembran biasanya timbul lokal tapi kemudian bisa menjalar dari faring, tonsil, laring dan saluran nafas bagian atas. Eksotoksin yang dikeluarkan bakteri akan menyebabkan miokarditis bila sampai di otot jantung dan jika sampai mengenai jaringan saraf perifer akan mengakibatkan paralisis terutama otot-otot pernafasan, nekrosis fokal pada hati dan ginjal yang menyebabkan nefritis interstitial.

Menurut Depkes RI (2004), penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheria. Terdapat tiga tipe baktri ini, yaitu tipe gravis, mitis dan intermedius yang terbagi menjadi beberapa varian.

Difteri mempunyai gejala klinis demam tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, nyeri kepala dan anoreksia sehingga terlihat sangat lemah, selain itu ada pseudomembran putih keabu-abuan yang tidak mudah lepas dan mudah berdarah di faring, laring atau tonsil, sakit waktu menelan, leher, membengkak seperti leher sapi (bullneck) dan sesak nafas disertai stridor.

Terdapat beberapa sumber penular difteri, antara lain:

  1. Manusia baik sebagai penderita maupun karier. Seseorang dapat menyebarkan bakteri difteri melalui droplet infection dan difteri kulit yang mencemari tanah sekitarnya.
  2. Melalui kontak dengan penderita atau karier atau melalui peralatan yang tercemar kuman difteri, meskipun jarang terjadi.
  3. Susu yang tidak dipasteurisasi dapat berperan sebagai media penularan.

Masa inkubasi penyakit difteri dapat berlangsung antara 2-5 hari. Sedangkan masa penularan beragam, dengan penderita bisa menularkan antara dua minggu atau kurang bahkan kadangkala dapat lebih dari empat minggu sejak masa inkubasi. Sedangkan stadium karier kronis dapat menularkan penyakit sampai 6 bulan.

Secara teknis medis, perkiraan diagnosis difteri didasarkan pada ditemukannya adanya membran asimetris keabu-abuan khususnya bila menyebar ke uvula dan palatum molle pada penderita Tonsillitis, Faringitis atau Limfadenopati leher atau adanya discharge serosanguinus dari hidung. Diagnosis difteri dikonfirmasi dengan pemeriksaan bakteriologis terhadap sediaan yang diambil dari lesi yang meliputi : a. Gram noda kultur tenggorokan atau selaput untuk mengidentifikasi Corynebacterium diphtheriae; b. Untuk melihat ada tidaknya myokarditis dapat dilakukan dengan electrocardiogram (EKG).

Sebagai sebuah penyakit penyakit yang termasuk dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), tinggi rendahnya kasus difteri antara lain  dipengaruhi program imunisasi. Epidemi difteri akan terus berlanjut dan menjadi endemis di suatu daerah jika cakupan imunisasi rutin rendah dan pengelolaan rantai dingin vaksin tidak adekuat.

Sedangkan di Indonesia, upaya imunisasi sudah dimulai sejak tahun 1977 yang kemudian diperluas menjadi Pengembangan Program Imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti penyakit TBC, difteri, pertusis, tetatus, hepatitis B, polio dan Campak. Sebagaimana kita ketahui, idealnya bayi atau anak umur 3 – 14 bulan harus sudah mendapat imunisasi dasar lengkap antara lain BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan Campak 1 kali dengan tujuan utama mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian.

Selain status imunisasi, faktor lingkungan rumah dimungkinkan dapat berpengaruh pada kejadian difteri. Beberapa aspek yang terkait dengan faktor ini antara tingkat kepadatan rumah dan hunian kamar tidur, ventilasi dan pencahayaan alami, serta  adanya sumber penularan,.

Cara-cara Pemberantasan Penyakit Difteri
Beberapa cara pencegahan penyakit difteri, dapat dilakukan dengan usaha penyuluhan kepada masyarakat, serta melalui program imunisasi.

  1. Kegiatan penyuluhan, terutama kepada para orang tua tentang bahaya difteri dan perlunya imunisasi aktif diberikan kepada bayi dan anak-anak. Penyuluhan dimaksudkan agar masyarakat memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang difteri baik penyebab, pencegahan dan penatalaksanaannya bila ada anggota keluarganya menderita difteri.
  2. Program imunisasi diharapkan dapat menjadi tindakan pemberantasan difteri yang efektif dengan memberikan imunisasi dasar DPT pada saat bayi dan difteri toxoid (DT) pada saat anak masuk sekolah dasar. Imunisasi dilakukan pada waktu bayi dengan vaksin yang mengandung diphtheri toxoid, tetanus toxoid, antigen “acellular pertussis: (DtaP) atau vaksin yang mengandung “whole cell pertusis” (DPT). Vaksin yang mengandung kombinasi difteri dan tetanus toxoid antigen “whole cell pertussis”, dan tipe b Haemophillus influenzae (DPT-Hib).

Menurut Depkes RI (2006), untuk mencegah penyakit difteri dan membentuk imunitas dapat diberikan vaksin DPTHB. Pemberian imunisasi DPTHB berfungsi untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu bersamaan terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus, dan hepatitis B. Vaksin DPT-HB adalah vaksin yang terdiri dari toxoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta bakteri pertusis yang telah diinaktifasi juga vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non infeksius.

Pemberian toksoid difteri 3 dosis akan memberikan titer lebih besar dari 0,01 IU dalam 1 ml. Penelitian I Made Setiawan menjelaskan bahwa pasca DPT 3 dosis 68 – 81% bayi telah memiliki kadar antibody protektif terhadap difteri dengan rata-rata 0,0378 Ill/ml. Pemberian vaksin kombinasi mempunyai daya cakupan yang lebih tinggi yaitu 94% dibanding vaksin terpisah yang sekitar 84%. Selain itu penggunaan vaksin kombinasi dapat mengurangi total biaya.

Sedangkan Cara pemberian imunisasi DPT-HB adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspense menjadi homogen.
  2. Disuntikkan secara intramuskuler dengan dosis pemberian 0,5 ml, sebanyak tiga dosis.
  3. Dosis pertama diberikan pada saat umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval minimal 4 minggu (1 bulan).

Kontra indikasi pemberian imunisasi DPT-HB adalah tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, sedangkan anak yang menderita penyakit kejang demam kompleks, gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan pada syaraf merupakan kontraindikasi Pertusis. Anak yang mengalami gejala parah pada dosis pertama, komponen Pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua dan untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT. Sakit batuk, pilek, demam ringan, atau diare yang sifatnya ringan bukan merupakan indikasi kontra yang mutlak.

Efek samping pemberian imunisasi DPT- HB adalah gejala yang bersifat sementara seperti: lemas, demam, kemerahan pada tempat penyuntikan, kadang-kadang terjadi gejala berat seperti demam tinggi, iritabilitas, dan meracau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi.

Dalam pemberian imunisasi dasar ada dua rujukan yang bisa digunakan yaitu dari Departemen Kesehatan dan IDAI. Sedangkan jadwal dan interval pemberian imunisasi, menurut Depkes RI (2009), dapat disesuaikan dengan keadaan di lapangan, dengan ketentuan bahwa interval antara pemberian imunisasi ke 1 dan ke 2, serta antara suntikan ke 2 dan ke 3 minimal satu bulan. Sedangkan jadwal pemberian vaksin pada bayi menurut Depkes dan sesuai rekomendasi IDAI sebagai berikut :

Refference, antara lain :

  1. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 829/MENKES/VII/1 999, tentang Persyaratan kesehatan perumahan, Depkes RI.Jakarta
  2. Modul pelatihan tenaga pelaksana imunisasi, Puskesmas. Depkes RI. 2006
  3. Imunisasi dasar bagi pelaksana imunisasi/bidan. Depkes RI. Depkes RI. 2009
  4. Prosedur kerja surveilans faktor risiko penya kit menular dalam intensifikasi pemberantasan penya kit menular terpadu berbasis wilayah, khusus faktor risiko lingkungan dan perilaku penya kit ISPA, Malaria, TBC, Campak, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio dan Hepatitis B, Dirjen PPM&PL. Depkes RI. 2004
  5. Pedoman imunisasi di Indonesia, Badan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. IDAI, Satgas Imunisasi . 2008.
  6. Titer imunoglobulin G (IgG) Difteri Pada Anak Sekolah. Kunarti, U. , UNDIP,. 2004
  7. Perawatan anak sakit-  Ngastiyah. 2005- EGC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.