Epidemiologi Rabies

Sumber Penularan, Cara Pencegahan dan Gejala Klinis Rabies

Saat ini zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan kepada manusia, merupakan masalah  serius. Menurut Brown cit Widodo (2008)  dalam dua puluh tahun terakhir, 75% dari penyakit-penyakit baru (emerging disease) pada manusia terjadi akibat perpindahan patogen hewan ke manusia atau bersifat zoonotik. Juga ditemukan sekitar 1415 mikroorganisme patogen pada manusia, 61,6% bersumber dari hewan.  Rabies merupakan jenis penyakit zoonosis. Rabies telah tersebar luas diseluruh dunia, dan hanya wilayah Australia yang masih dalam status bebas rabies.

Office International des Epizooties atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia menggolongkan rabies sebagai penyakit hewan menular golongan B dan dicantumkan dalam buku International Animal Health Code. Sementara WHO menentukan rabies sebagai kelompok 15 besar penyakit paling mematikan pada orang.

Epidemiologi Rabies

Epidemiologi Rabies

Di wilayah Asia, waktu asal mula terjadinya penyebaran rabies tidak diketahui secara pasti, bagaimana dan dari mana masuknya. Walaupun telah banyak orang meninggal karena rabies setiap tahun dan telah banyak upaya yang dilakukan dalam rangka pengendalian di berbagai negara di Asia, namun intensitas kejadian, kompleksitas permasalahan, perhatian masyarakat dan cara pemecahan masalah sangat bervariasi. Kasus rabies belum dapat diatasi secara tuntas.

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit hewan penular rabies, antara lain lalu lintas hewan, populasi HPR, cara pemeliharaan hewan piara (khususnya anjing), pemahaman masyarakat tentang rabies dan aspek yang terkait dengannya, ketersediaan sarana dan prasarana dan infrastruktur, komitmen petugas dan pemerintah, sistem dan prosedur pemberantasan, keberadaan satwa reservoir rabies di alam dan aplikasi teknologi yang sahih.

Dikenal dua macam siklus rabies, yakni rabies dilingkungan pemukiman penduduk dan rabies di alam bebas atau hutan (salivatic rabies). Manusia paling sering tertular rabies lewat anjing, tetapi sangat jarang tertular dari kucing, kera atau hewan lain.

Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies dan menular pada manusia lewat gigitan atau cakaran hewan penderita rabies atau dapat pula lewat luka yang terkena air liur hewan penderita rabies. Walaupun jarang ditemukan, virus rabies ini dapat ditularkan ketika air liur hewan yang terinfeksi mengenai selaput lendir seseorang seperti kelopak mata, mulut atau kontak melalui kulit yang terbuka. Penularan rabies dapat pula terjadi melalui pendedahan pada konjungtiva, selaput lendir mulut, organ genital dan abrasi oleh air liur penderita rabies. Zinke tahun 1804 adalah orang pertama yang mendemonstrasikan virus rabies di dalam air liur melalui transmisi buatan pada anjing. Uji coba pertama telah membuktikan bahwa agen rabies pada orang dan anjing adalah sama, melalui karya Magendie dan Breschet tahun 1813 yang berhasil menginfeksi anjing dengan air liur pasien orang menderita rabies.

Agen penyebab rabies adalah virus dari genus Lyssa virus, termasuk keluarga Rhabdoviridae. Ciri virus rabies berbentuk memanjang atau bentuk basil. Satu sisinya bentuk bulat, sedangkan sisi satunya tumpul seperti bentuk peluru berukuran (130-300) nm panjang dan diameter 70 nm, dengan tiga lapis sampul lipoprotein berisi peplomer virus-spesifik dan bentukkan gelembung pada ujung tumpul dari partikel.

Secara patogenesis, setelah virus rabies masuk lewat luka gigitan, selama dua minggu virus tetap tinggal pada tempat masuk dan dekatnya. Kemudian virus akan bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukan perubahan-perubahan fungsinya. Masa inkubasi virus ini berkisar antara dua minggu sampai dua tahun. Tatapi pada umumnya 3-8 minggu, tergantung jarak tempuh virus sebalum mencapai otak. Sesampainya virus di otak, virus akan memperbanyak diri dan menyebar luas dalam semua bagian neuron-neuron, terutama mempunyai predileksi khusus terhadap sel-sel sistem limbik, hipotalamus dan batang otak.

Setelah memperbanyak diri dalam neuron-neuron sentral, virus kemudian bergerak ke arah perifer dalam serabut saraf eferen, volunter dan otonom. Dengan demikian, virus ini menyerang hampir tiap organ dan jaringan di dalam tubuh dan berkembang biak dalam jaringan-jaringan seperti kelenjar ludah, ginjal dan sebagainya. Puncaknya virus ini akan mencapai otak yang akhirnya dapat menyebabkan kematian.

Pada saat virus telah memasuki saraf, virus berimigrasi menuju sasaran ke dalam sistem saraf pusat dan akhirnya menyebar ke seluruh sistem saraf pusat dan masuk ke dalam jaringan otak yang kaya akan sel saraf, termasuk otot dan saraf tulang belakang. Perjalanan virus dapat potong kompas sekitar sumsum tulang dan menjalar melalui alat fiber-panjang langsung menuju ke bagian tertentu dari otak. Dengan cara ini, virus dapat secara cepat memperbanyak diri dan menyebar ke seluruh tubuh sebelum hewan mengalami perubahan patologik yang ekstensif di sumsum tulang. Hal ini penting karena mobilitas dari hewan merupakan faktor penting untuk kelanjutan transmisi rabies ke hewan lain.

Secara umum gejala klinis rabies terbagi dalam empat stadium, antara lain :

Stadium Prodromal: Gejala awal berupa demam, sakit kepala, malaise, sakit tulang, kehilangan nafsu makan, mual, rasa nyeri di tenggorokan, batuk dan kelelahanluar biasa selama 1-4 hari. Gejala-gejala ini merupakan gejala yang spesifik dari orang yang terinfeksi virus rabies yang muncul 1-2 bulan setelah gigitan hewan pembawa virus rabies.

Stadium Sensoris: Pada stadium ini, penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka gigitan. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik.

Stadium Eksitasi: Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gej ala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi. Bersamaan dengan stadium eksitasi ini, penyakit mencapai puncaknya yang sangat khas, yaitu adanya macam-macam fobia. Dan yang paling sering diantaranya adalah hidrofobi (takut air). Kontraksi otot-otot faring dan otototot pernafasan dapat pula ditimbulkan oleh rangsang sensorik seperti meniupkan udara ke muka penderita atau menjatuhkan sinar ke mata atau dengan menepuk tangan di depan penderita. Pada stadium ini dapat terjadi apnoe, sianosis, konvulsan dan takikardi. Tindak-tanduk penderita tidak rasional, kadang-kadang maniakal disertai dengan saat-saat responsif. Gejala eksitasi ini dapat berlangsung sampai penderita meninggal, tetapi pada saat mendekati kematian, justru lebih sering terjadi otot-otot melemas hingga terjadi paresis (kelemahan anggota gerak) flaksid otot-otot.

Stadium Paralisis: Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala eksitasi melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang memperlihatkan gej ala paresis otot-otot yang bersifat asendens, yang selanjutnya meninggal karena kelumpuhan otot-otot pernafasan. Tanpa perawatan serius, kematian dapat terjadi 4-20 hari setelah gejala-gejala muncul. Inkubasi dari infeksi rabies ini umumnya terjadi dalam waktu 1-2 bulan setelah kejadian, walau rentang waktunya 10 hari sampai satu tahun.

Alternatif Usaha Pencegahan Rabies
Prinsip dasar usaha pencegahan rabies dilakukan baik pada manusia maupun hewan dan ternak berupa pemutusan daur penularan pada inang penyimpan dan perlindungan terhadap penularan dari penderita klinis. Pada banyak kasus rabies ditularkan anjing, pencegahannya hanya cukup dilakukan dengan memotong daur penularan melalui upaya yang terkait dengan keberadaan dan status kesehatan hewan tersebut untuk menjadi bebas.

Di Indonesia, studi tentang peranan hewan liar sebagai penyimpan rabies masih sangat terbatas, sehingga pengendalian selama ini masih terbatas pula pada penanganan anjing atau dalam presentase kecil pada kucing dan kera. Usaha pencegahan dan pemberantasan rabies dilakukan dengan vaksinasi massal pada anjing peliharaan, eliminasi anjing liar, juga sosialisasi bahaya rabies berikut cara pencegahannya kepada masyarakat.

Usaha Pertolongan Pertama Rabies

Menurut Depkes (2000), setiap ada kasus gigitan hewan penular rabies harus ditangani dengan cepat dan sesegera mungkin, untuk mengurangi atau mematikan virus rabies yang masuk pada luka gigitan. Pengobatan luka gigitan meliputi:
Pertolongan pertama: Usaha yang paling efektif ialah mencuci luka gigitan dengan air (sebaiknya air mengalir) dan sabun atau ditergent selama 10-15 menit, kemudian diberi antiseptik (alkohol 70 %, betadine, obat merah atau lainnya). Tetapi, walaupun pencucian luka sudah dilakukan, harus dicuci kembali lukanya di puskesmas atau rumah sakit.
Pengobatan luka secara khusus (dengan pengawasan dokter)

Berdasarkan rekomendasi dari WHO pengobatan luka secara khusus sebagai berikut:

  1. Lakukan pencucian seperti di atas
  2. Semprotkan serum anti rabies ke dalam luka dan infiltrasikan serum tersebut di sekitar luka.
  3. Luka jangan segera dijahit, tapi jika perlu luka jahitan lakukanlah infiltrasi dengan serum anti rabies di sekitar luka.
  4. Berikan pencegahan terhadap tetanus bila ada indikasi dan antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder dengan kuman.

Pemberian vaksin anti rabies (VAR) atau vaksin anti rabies yang disertai serum anti rabies (SAR) harus didasarkan atas tindakan tepat dengan mempertimbangkan beberapa hasil penemuan \berikut :

  1. Anamnesis: Kontak/jilatan/gigitan; Kejadian didaerah tertular/terancam/bebas; Didahului tindakan provokatif/tidak; Hewan yang menggigit menunjukkan gej ala rabies; Hewan yang menggigit mati, tapi masih diragukan menderita rabies; Penderita luka gigitan pernah di VAR, kapan?; Hewan yang menggigit pernah di VAR, kapan?
  2. Pemeriksaan fisik: Identifikasi luka gigitan (status lokalis)
  3. Lain-lain: Temuan pada waktu observasi hewan; Hasil pemeriksaan spesimen dari hewan; Petunjuk WHO.

Refference, antara lain :

– Akoso, B.T., 2007. Pencegahan & Pengendalian RABIES, Penyakit Menular pada Hewan dan Manusia. Yogyakarta : Kanisius.
– Departemen Kesehatan RI, 2000. Petunjuk Perencanaan Dan Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Tersangka Rabies Di Indonesia.

 

Incoming Search Terms:

One thought on “Epidemiologi Rabies

  1. Mohon informasinya, sehubungan saya beberapa hari yang lalu sering memakan buah mangga yg jatuh dari pohon. Beberapa dari buah tsb ada bekas gigitan kelelawar. Namun sebelum memakannya, saya sudah bersihkan dulu dan membuang bagian bekas gigitan kelelawar di buah mangga tsb. Pertanyaan saya, mungkinkah dapat terjadi penularan virus Rabies dari buah mangga yg saya makan itu? Apabila mungkin, apa saja gejala2 yg akan timbul? Lalu bagaimana cara pencegahannya?

    Terima kasih sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.