Lockdown Ala Kami

Stay at Home, Kebutuham, Himbauan, dan Move on

Pada awal pandemi bergerak tipis antara Wuhan, Hubei dan deretan tetangga nun di China sana, saat itu pula bude Jamilah sudah sering googling keyword weather. Disana tertulis 2 derajat celcius.

Pun Sampai kemudian dilakukan slametan pemberian nama novel coronavirus menjadi Covid-19. Dan naik status menjadi kedaruratan Kesehatan Masyarakat, menjadi global pandemic. Dalam pantauan google bude, weather di negara terjangkit selalu konsisten di angka dua, lima, atau di angka belasan derajat celcius.

Optimisme bude sempat membuncah saat itu, bahwa Covid-19 tidak akan kerasan di bumi pertiwi. Yang lembab, yang panas, yang menjadi tempat exotis tropis bule berjemur di pantai-pantai kita.

Itu dulu, ketika Batik AIr dielu sukses evakuasi mahasiswa kita di Wuhan. Ketika ceremony semprotan disinfektan pada mereka menjadi bahan bully nitizen di seantero jagad maya (dan masih berlanjut di waktu sesudahnya). Sampai kemudian ada revisi berkali pada juknis dan SOP, diantaranya bahwa itu khususon permukaan benda, bukan manusia.

Itu Era ketika ODR (Orang dalam Risiko) masih syah menjadi tool screening epidemiologi.

Sampai kemudian kasus pertama menyentak di seputaran ibu kota. Saat ketika cluster masih sangat gampang ditegakkan. Disebut di press release nasional. Di police line. Diruntut dan diikuti asosiasi netizen diseluruh jagad maya

Kasus demi kasus akhirnya melahirkan sekaligus mematikan berbagai jargon. Bude Jamilah masih lancar menyebut istilah ODR, ODP, PDP, probable, confirm. Lalu lahir istilah OTG, orang tanpa gejala.

Kasus demi kasus melahirkan ribuan swab negatif, swab positif, ratusan sembuh, dan ratusan pula meninggal. Sebaran kasus hampir merata di semua propinsi dan kabupaten. Untung Bude Jamillah tipe orang yang cepat belajar. Beliau cepat mengambil keputusan untuk talak dua pada kebiasaan mengikuti trend perkembangan covid di media. Sesuatu yang dirasa bude berpotensi menjadi stimulus stress. Kontra produktif bagi jiwa bebas bude yang bukan siapa-siapa. Yang bukan apa-apa.

Saat ini bude hanya menjadi bagian kecil komunitas stay at home yang digagas dunia itu. Menjadi kelompok cinta masker (walau tidak terlalu beriman pada masker).

Bude menjadi lebih tenang.

Wawancara Imajiner Itu

Ide wawancara ini sebetulnya sudah lama tercetus. Mumpung beliau sedang be calm. Dan berikut wawancara imajiner saya dengan Bude Jamilah :

Menurut Bude, bagaimana konsep lockdown yang diterapkan di kampung bude saat ini .. ?

“Begini nak. Dalam satu hal sebetulnya kita sering mampu mengaktualisasikan orisinalitas diri kita. Karena kondisi. Atau karena kurang referensi. Untuk lockdown ala China misalnya, tentu kita harus lebih lama istikharah. Disana orang bisa anteng at home karena sumber daya negara mampu memenuhi segala hal. Segala logistik dijadwal, dikawal, dipenuhi, bahkan diantar sampai depan teras. Untuk berjuta keluarga.

Kita masih terlalu abstrak untuk mengambil pilihan itu. Walau sebagai archipelagic state, pilihan itu menjadi agak rasional. Lockdown per pulau. Namun sudahlah. Ndak usah dibahas. Pilihan PSBB sudah diambil. Itu saja menurut bude yang harus terus dipoles. Toh sablat mas’alatan binti trouble maker si covid sudah terlanjur sillaturrahim dan mudik ke kampung-kampung kita. Bude masih berharap banyak pada weather kita nak. Bude percaya, habitat asli covid tidak disini. Ujar bude agak parau …

Menurut bude, saat ini masalah utama penanganan pandemi covid di kampung kita apa?

Kecepatan nak. Kita selalu bermasalah dengan kecepatan pengambilan keputusan.

Maksud bude .. ?

Pertama keputusan untuk segera mempunyai pilihan-pilihan penanganan. Kita bisa melihat epicentrum awal pandemi kita. Jakarta. Sedikit banyak kita bisa belajar dari sana. Mengapa ada klausul “sedikit banyak” pada pembelajaran kita? Karena segala hal dikampung kita sangat tidak sepadan dengan mereka.

Setidaknya kita bisa melihat kecepatan mereka menjadikan berbagai hotel dan gedung representatif sebagai rumah sakit darurat covid-19. Sebagai lokasi karantina mandiri khusus ODP atau PDP menunggu hasil swab. Sebagai tempat tinggal sementara tenaga kesehatan yang merawat pasien covid-19.

Setidaknya energi pemantaun mereka tidak habis karena luasnya sebaran. Mereka sudah main point to point. Mereka juga sudah mampu memberdayakan laboratorium sendiri. Mereka punya akselerasi penegakan diagnosa.

Sementara banyak wilayah masih gamang untuk berkeputusan. Karena sumber daya sebagian besar masih mustahiq, bukan muzakki (seloroh bude dengan senyum kecut ….

Jadi menurut bude itu kelemahan wilayah?

Bisa iya, bisa tidak. Banyak ahlinya soal itu. Bude mah hanya ahli ghibah. Bisa ditanyakan pada rumput yang tidak lagi mampu bergoyang. Ujar bude tertawa lepas …

Apa harapan bude saat ini ?

Raut wajah bude sedikit serius saat kulontarkan pertanyaan ini. Gurat ketuaan dan kebjakan makin tebal tergambar di sudut mata beliau. Dengan sedikit tarikan nafas dalam, beliau menjawab :

“Harapan bude masih sama seperti yang dulu-dulu nak. Pertama segera temukan alat deteksi covid-19 yang akurasinya sama dengan swab.Yang kecepatannya sama dengan rapid test. Atau segera tambah kapasitas  dan kecepatan pemeriksaan swab ini. Atau segera tambah jumlah laboratorium rujukan covid ini. Upgrade kemampuan lab daerah untuk pemeriksaan PCR covid ini, jangan hanya sebatas mengambil dan mengirim swab. Agar warna gradasi peta semakin jelas. Agar kita tidak terlalu lama main petak umpet dengan covid. Agar upaya memutus rantai penularan tidak selalu main tebak-tebakan”

“Kedua : segera bangun empati keluarga besar ini. Bangsa kita dikenal berbudi luhur. Dibangun diatas pondasi kekeluargaan yang tulus. Mengapa ketika ada saudara kita positif covid pondasi ini runtuh? Fisik harus berjarak. Namun ketulusan kekeluargaan dan empati harus tetap berdiri.Janganlah kita sibuk setiap hari memantau update perkembangan covid, untuk kemudian kita bergunjing dan mencemooh mereka yang sedang mendapatkan ujian sakit ini”.

“Terakhir: Segera temukan obat covid ini. Bude masih ingat keberhasilan bangsa ini menghadang wabah flu burung”.

.. bersambung (by_jRenk)

Tagged with 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.