Masa Sih Masa Inkubasi?

Quo Vadis Masa Inkubasi

Oleh: Munif Arifin

 

Sebuah pesan pribadi saya terima dari Bude.

Kemudian berturut beberapa pesan reply dari group WA alumni SMA bude. Soal perubahan aturan masa karantina pelaku perjalanan internasional di bandara. Dari 7 hari menjadi 5 hari. Tentu (masih) dengan catatan dan pengecualian. Bude mengaku dibuat bingung dengan seringnya perubahan masa karantina ini.

Beliau peduli karena cucu tercinta  akan datang dari negari seberang. Tepatnya pulang kampung. Setelah berpuluh tahun.

Masa Inkubasi

Beberapa chat kubalas. Kusampaikan bahwa silih bergantinya masa karantina seharusnya didasarkan update referensi virus corona 2019 ini. Terutama masa inkubasi.

Kenapa? Tanya bude.

Karena masa inkubasi omicron hanya 3 hari? Yaakiin .. ?

Kemudian berturut-turut beliau mengirimkan pesan WA susulan. Kali ini semacam resume launching versi update penetapan masa karantina, sebagai berikut:

  • Juli 2021 :  karantina 8 hari
  • 14 Oktober 2021 : 5 hari
  • 3 November 2021 : 3 hari
  • Awal Desember 2021 : 10 hari dan 14 hari
  • 1 Pebruari 2022 : 5 Hari

Bude lengkap mencantumkan Surat Edaran (SE) perubahan diatas, Nomor dan tahun dikeluarkan. Tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Soal tulis menulis beliau memang keren. Segala urusan dicatatnya. Prinsipnya, tulis semua yang kau kerjakan. Kerjakan semua yang kau tulis.  Tentu yang paling dominan tentang pernak pernik urusan belanja.  Dan catatan panjang dokumen resmi negara sebagai bendahara arisan ibu-ibu dasa wisma.

Kusampaikan, bahwa seharusnya bobot terbesar perhitungan lama masa karantina ini didasarkan pada faktor masa inkubasi covid-19. Setelah itu baru aspek lain. Bisa ipoleksosbudhankam.

Bude menamai diskusi singkat di chat ini sebagai qou vadis masa inkubasi

Masa inkubasi merupakan waktu yang diperlukan oleh virus (covid-19) untuk berlipatganda (setelah masuk) dalam tubuh seseorang hingga timbul gejala (bisa demam, batuk, pilek, anosmia, sesak nafas, dan atau  lainnya).

Umumnya rata-rata masa inkubasi Covid-19 selama 5-6 hari, namun bisa 14 hari.

Lalu kapan waktu paling awal dapat menemukan virus dalam tubuh seseorang (sebelum virus berkembang berlipat ganda)?

Logika Bude, jika alat test dengan sensitifitas tinggi dapat menangkap itu, akan sangat bermakna. Misalnya berpotensi dapat menggugurkan tahap exit test pada masa karantina yang mempersyaratkan hasil swab negatif.

Dengan kata lain tidak perlu karantina jika entry test sudah valid.

Dengan kata lain lagi, tidak lagi ada  karantina  yang naik status menjadi isolasi (karena hasil swab menjadi positif)

Khan bisa saja infeksi terjadi ditempat karantina. Seloroh bude.

Bude masih melanjutkan dengan beberapa pertanyaan ini.

  • Kapan virus sudah tidak lagi mampu berkembang biak setelah itu.
  • Kapan waktu virus tidak lagi mampu keluar dari tubuh seseorang (tidak mampu menularkan lagi)?
  • Dengan kata lain, kapan antibodi seseorang mampu mengalahkan virus Covid-19?

Saya mencoba menuliskan kembali time series diagnosa covid ini, sebagai jawaban tak langsung pertanyaan bude diatas.

Kronologi penegakan diagnosa covid-19.

Bahwa penerapan aturan berapa lama waktu karantina, dilakukan seiring penggunaan metode penegakan diagnosa.

Misalnya di awal pandemi dilakukan pemeriksaan masif menggunakan Rapid Test antibody (sampel darah). Disamping Rapid test PCR.

Kemudian diperkenalkan Rapid Diagnosis Test Antigen (dengan sampel swab hidung tenggorokan). Artinya terdapat pilihan metode rapid antibody, rapid antigen, dan NAAT molekuler.

Ke tiganya tentu include dengan update biaya pemeriksaannya.

Rekomendasi WHO masih dengan test molekuler (memeriksa material genetik virus dalam tubuh). Dengan NAAT-RT-PCR

Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan rapid test antibody, masih diperlukan sekian waktu, dihitung sejak tubuh terpapar virus sampai dengan terbentuk antibody (IgM dan IgG).

Antibodi IgG dan IgM belum bisa terdeteksi saat awal seseorang terpapar, sehingga jika pemeriksaan dilakukan pada saat ini hasilnya potensial negatif palsu

Prosedur kemudian ditetapkan untuk mengatasi hal itu. Dengan test ulang pada hari ke 3-7 setelah pemeriksaan pertama.

Jika mengacu pada pola respon  tubuh saat virus masuk tubuh, maka dapat dijelaskan bahwa antibodi IgM menunjukkan respons tubuh pada tahap awal (respons akut). Sementara IgG merupakan indikator bahwa tubuh pernah terinfeksi virus (Covid-19).

Tentu deteksi menjadi agak terlambat.Juga bermasalah pada sensitivitas atau spesifisitas  hasil, karena bias pada jenis antibody yang terjaring.

Sensitifitas?

Sensitifitas merupakan kemampuan alat menunjukkan seseorang yang di Test benar terpapar virus atau sakit dengan hasil test positif.

Spesifitas dimaksudkan, jika alat tersebut digunakan untuk ngetest orang lain yang tidak terpapar atau tidak sakit  maka hasilnya negatif.

Setelah hasil rapid test antibodi diangab gagal merepresentasikan maping pandemi sesungguhnya kemudian dunia industri lab mengenalkan RDT-AG.  Dan segera para regulator me-legimated metode ini. Diklaim sebagai cara paling efektif untuk tes massal suspek covid-19.

Namun sebagaimana sejak awal pandemi, gold standar diagnosis covid-19 tetap RT-PCR. Metode real-time reverse transcriptase

Polimerase Chain Reaction ini pada dasarnya merupakan teknik analisis untuk mendeteksi molekul RNA hasil salinan kode DNA yang terdapat dalam sel virus.

Molekul RNA ini berfungsi menyimpan informasi genetik dalam sel virus.

Misalpun jumlah virus sangat sedikit, metode ini tetap mampu mendeteksi jejak virus. Dengan kata lain, akurasi dan sensifititas diyakini tinggi.

Metode lain rekomendasi WHO adalah WGS (whole genome sequencing). WGS lagi naik daun karena Omicron.

  • Merupakan identifikasi urutan asam basa (nukleotida) virus COVID-19.
  • Lebih detail dibanding RT-PCR.
  • Hanya digunakan jika dicurigai muncul mutasi baru virus Covid-19

Sebetulnya diskusi dengan bude ini masih terus berlanjut.

Terpaksa saya sudahi karena tiba-tiba muncul episode anyar Ghost Doctor (on going).

Namun kita sepakat dalam satu hal.

Dengan melihat kronologi masa inkubasi, masa karantina, metode diagnosa, kita sepakat sebetulnya perangkat mengatasi pandemi ini on the track semakin dapat dipecaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Indonesian Public Health Portal