Standar Pengawasan Kualitas Air Bersih Pada Wilayah Bencana

Metode Pengawasan dan Perbaikan Kualitas  Air Bersih Pada Wilayah Bencana

Kebutuhan air bersih menjadi sangat penting pada wilayah bencana, khususnya pada daerah pengungsian. Dari aspek kesehatan, kecukupan air bersih sangat penting, misalnya terkait dengan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit diare. Penyakit diare merupakan penyakit menular yang sangat potensial terjadi di daerah pengungsian maupun wilayah bencana. Selain karena keterbatasan akses air bersih, penyebaran penyakit ini juga sangat erat terkait dengan masalah perilaku dan masalah sanitasi lain.

Berdasarkan kondisi tersebut, beberapa upaya dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya penyakit diare di wilayah bencana, seperti dengan selalu menggunakan air bersih yang memenuhi syarat, pemanfaatan jamban untuk sarana buang air besar,berperilaku membuang tinja bayi dan anak kecil di jamban, selalu berperilaku CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) sebelum makan atau menjamah/memasak makanan dan sesudah buang air besar.

Mengingat pentingnya air bersih pada wilayah bencana, maka  harus dapat dipastikan akses  air bersih yang memadai untuk mampu berperan memelihara kesehatan pengungsi. Masalah lain juga harus selalu diperhatikan jika akses ini sudah memadai, yaitu berbagai upaya pengawasan dan perbaikan kualitas air bersih dan sarana sanitasi di wilayah bencana. Tujuan utama perbaikan dan pengawasan kualitas air adalah untuk mencegah timbulnya risiko kesehatan akibat penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan. Pada tahap awal kejadian bencana atau pengungsian ketersediaan air bersih bagi pengungsi perlu mendapat perhatian, karena tanpa adanya air bersih sangat berpengaruh terhadap kebersihan dan mening-katkan risiko terjadinya penularan penyakit seperti diare, typhus, scabies dan penyakit lainnya.

Standar minimum kebutuhan air bersih

  1. Prioritas pada hari pertama atau awal terjadinya bencana/pengungsian, kebutuhan air bersih yang harus disediakan bagi pengungsi adalah 5 liter/orang/hari. Jumlah ini dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan minimal, seperti masak, makan dan minum.
  2. Pada hari kedua dan seterusnya harus segera diupayakan untuk meningkatkan volume air sampai sekurang kurangnya 15–20 liter/orang/ hari. Volume sebesar ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minum, masak, mandi dan mencuci. Bilamana hal ini tidak terpenuhi, sangat besar potensi risiko terjadinya penularan penyakit, terutama penyakt penyakit berbasis lingkungan.
  3. Hari berikutnya: 20 liter/org/hari
  4. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka melayani korban bencana dan pengungsian, volume sir bersih yang perlu disediakan di Puskesmas atau rumah sakit: 50 liter/org/hari.

Sumber air bersih dan pengolahannya

  1. Bila sumber air bersih yang digunakan untuk pengungsi berasal dari sumber air permukaan (sungai, danau, laut, dan lain-lain), sumur gali, sumur bor, mata air dan sebagainya, perlu segera dilakukan pengamanan terhadap sumber-sumber air tersebut dari kemungkinan terjadinya pence-maran, misalnya dengan melakukan pemagaran ataupun pemasangan papan pengumuman dan dilakuk perbaikan kualitasnya.
  2. Bila sumber air diperoleh dari PDAM atau sumber lain yang cukup jauh dengan tempat pengung-sian, harus dilakukan pengangkutan dengan mobil tangki air.
  3. Untuk pengolahan dapat menggunakan alat penyuling air (water purifier/water treatment plant).

standar-pengawasan-kualitas-air-bersih-pada-wilayah-bencanaBeberapa cara pendistribusian air bersih berdasarkan sumbernya

  1. Air Permukaan (sungai dan danau) : Diperlukan pompa untuk memompa air ke tempat pengolahan air dan kemudian ke tangki penampungan air di tempat penampungan pengungsi;  b. Area disekitar sumber harus dibebaskan dari kegiatan manusia dan hewan
  2. Sumur gali : a. Lantai sumur harus dibuat kedap air dan dilengkapi dengan SPAL (saluran pembuangan air limbah); b. Bilamana mungkin dipasang pompa untuk menyalurkan air ke tangki tangki penampungan air
  3. Sumur Pompa Tangan (SPT): a. Lantai sumur harus dibuat kedap air dan dilengkapi dengan SPAL (saluran pembuangan air limbah); b. Bila lokasinya agak jauh dari tempat penampungan pengungsi harus disediakan alat pengangkut seperti gerobak air dan sebagainya
  4. Mata Air: Perlu dibuat bak penampungan air untuk kemudian disalurkan dengan pompa ke tangki air; b. Bebaskan area sekitar mata air dari kemungkinan pencemaran

Tangki penampungan air bersih di tempat pengungsian

Tempat penampungan air di lokasi pengungsi dapat berupa tangki air yang dilengkapi dengan kran air. Untuk mencegah terjadinya antrian yang panjang dari pengungsi yang akan mengambil air, perlu diperhatikan jarak tangki air dari tenda pengungsi minimum 30 meter dan maksimum 500 meter.

Untuk keperluan penampungan air bagi kepentingan sehari hari keluarga pengungsi, sebaiknya setiap keluarga pengungsi disediakan tempat penampungan air keluarga dalam bentuk ember atau jerigen volume 20 liter.

Perbaikan dan Pengawasan Kualitas Air Bersih

Pada situasi bencana dan pengungsian umumnya sulit memperoleh air bersih yang sudah memenuhi persyaratan, oleh karena itu apabila air yang tersedia tidak memenuhi syarat, baik dari segi fisik maupun bakteriologis, perlu dilakukan dengan membuang bahan pencemar, serta melakukan beberapa hal berikut.

  1. Melakukan penjernihan air secara cepat apabila tingkat kekeruhan air yang ada cukup tinggi.
  2. Melakukan desinfeksi terhadap air yang ada dengan menggunakan bahan bahan desinfektan untuk air
  3. Melakukan pemeriksaan kadar sisa klor jika air dikirim dari PDAM
  4. Melakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala pada titik-titik distribusi

Perbaikan Kualitas Air

JIka air yang tersedia tidak memenuhi syarat, baik dari segi fisik maupun bakteriologis dapat dilakukan upaya perbaikan mutu air seperti berikut:

Penjernihan Air Cepat, dengan menggunakan Alumunium Sulfat (Tawas). Sedangkan cara Penggunaan tawas sebagai berikut:

  1. Sediakan air baku yang akan dijernihkan dalam ember 20 liter
  2. Tuangkan/campuran tawas yang sudah digerus sebanyak 1/2 sendok teh dan langsung diaduk perlahan selama 5 menit sampai larutan merata
  3. Diamkan selama 10–20 menit sampai terbentuk gumpalan/flok dari kotoran/lumpur dan biarkan mengendap. Pisahkan bagian air yang jernih yang berada di atas endapan, atau gunakan selang plastik untuk mendapatkan air bersih yang siap digunakan
  4. Bila akan digunakan untuk air minum agar terlebih dahulu direbus sampai mendidih atau didesinfeksi dengan aquatabs

Penjernihan Air Cepat, dengan menggunakan Poly Alumunium Chlorida (PAC). Lazim disebut penjernih air cepat yaitu polimer dari garam alumunium chloride yang dipergunakan sebagai koagulan dalam proses penjernihan air sebagai pengganti alumunium sulfat.

Kemasan PAC terdiri dari: a). Cairan yaitu koagulan yang berfungsi untuk menggumpalkan kotoran/ lumpur yang ada di dalam air dan b). Bubuk putih yaitu kapur yang berfungsi untuk menetralisir pH

Cara Penggunaan:

  1. Sediakan air baku yang akan dijernihkan dalam ember sebanyak 100 liter
  2. Bila air baku tersebut pH nya rendah (asam), tuangkan kapur (kantung bubuk putih) terlebih dahulu agar pH air tersebut menjadi netral (pH=7). Bila pH air baku sudah netral tidak perlu digunakan lagi kapur
  3. Tuangkan larutan PAC (kantung A) kedalam ember yang berisi air lalu aduk perlahan lahan selama 5 menit sampai larutan tersebut merata
  4. Setelah diaduk merata biarkan selama 5 – 10 menit sampai terbentuk gumpalan/flok flok dari kotoran/lumpur dan mengendap. Pisahkan air yang jernih dari endapan atau gunakan selang plastik untuk mendapatkan air bersih yang siap digunakan
  5. Bila akan digunakan sebagai air minm agar terlebih dahulu direbus sampai mendidih atau di desinfeksi dengan aquatabs

Desinfeksi Air

Proses desinfeksi air dapat menggunakan Kaporit (Ca(OCl)2) atau Aquatabs (Aqua tablet);

Desinfeksi dengan Kaporit (Ca(OCl)2)

  1. Air yang telah dijernihkan dengan tawas atau PAC perlu dilakukan desinfeksi agar tidak mengandung kuman patogen. Bahan desinfektan untuk air yang umum digunakan adalah kaporit (70% klor aktif).
  2. Kaporit adalah bahan kimia yang banyak digunakan untuk desinfeksi air karena murah, mudah didapat dan mudah dalam penggunaanya.
  3. Banyaknya kaporit yang dibutuhkan untuk desinfeksi 100 liter air untuk 1 KK (5 orang) dengan sisa klor 0,2 mg/liter adalah sebesar 71,43 mg/hari (72 mg/hari).

Desinfeksi dengan Aquatabs (Aqua tablet)

  1. Sesuai namanya aquatabs berbentuk tablet, setiap tablet aquatabs (8,5 mg) digunakan untuk mendesinfeksi 20 liter air bersih, dengan sisa klor yang dihasilkan 0,1 – 0,15 mg/liter
  2. Setiap 1 KK (5 jiwa) dibutuhkan 5 tablet aquatabs per hari untuk mendesinfeksi 100 liter air bersih.

Pengawasan Kualitas Air

Pengawasan kualitas air dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, antara lain:

  1. Pada awal distribusi air: a). Air yang tidak dilakukan pengolahan awal, perlu dilakukan pengawasan mikrobiologi, tetapi untuk melihat secara visual tempatnya, cukup menilai ada tidaknya bahan pencemar disekitar sumber air yang digunakan; b). Perlu dilakukan test kekeruhan air untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pengolahan awal; b). Perlu dilakukan test pH air, karena untuk desinfeksi air memerlukan proses lebih lanjut bilamana pH air sangat tinggi (pH >5); c). Kadar klor harus tetap dipertahankan agar tetap 2 kali pada kadar klor di kran terakhir (rantai akhir), yaitu 0,6 – 1 mg/liter air.
  2. Pada distribusi air (tahap penyaluran air), seperti di mobil tangki air perlu dilakukan pemeriksaan kadar sisa klor.
  3. Pada akhir distribusi air, seperti di tangki penampungan air, bila air tidak mengandung sisa klor lagi perlu dilakukan pemeriksaan bakteri Coliform.

Sementara itu pemeriksaan kualitas air secara berkala yang perlu dilakukan antara lain meliputi:

  1. Pemeriksaan Sisa klor. Pemeriksaan dilakukan beberapa kali sehari pada setiap tahapan distribusi untuk air yang melewati pengolahan
  2. Pemeriksaan Kekeruhan dan pH. Pemeriksaan dilakukan mingguan atau bilamana terjadi perubahan cuaca, misalkan hujan.
  3. Pemeriksaan Bakteri E. coli tinja. Pemeriksaan dilakukan mingguan disaat KLB diare dan periode emergency dan pemeriksaan dilakukan bulanan pada situasi yang sudah stabil dan pada periode paska bencana.

Referensi, Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana, Depkes RI, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.