MDGs Pasca 2015

MDGs Pasca 2015, Politik Ekonomi International dan Kesehatan  Global

Sebagaimana kita ketahui, tokoh lahirnya ide kunci MDGs adalah Jeffrey Sachs , dengan ide besarnya “ending poverty 2025”.  Sebelum, selama, dan pada saat kebijakan global ini di buat, Jeffrey Sachs adalah orang penting dan tink tank utama dibelakang layar lahirnya MDGs. Dia adalah sosok penting dibelakang beberapa sekjen PBB, seperti Koffi Anand dan lainnya. Prinsip utama yang ditawarkan Sachs untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan meningkatkan  hingga  dua  kali  lipat  bantuan  luar  negeri  hingga mencapai  $100 milyar setahun, secara terus menerus sampai menjelang tahun 2015. Bantuan luar negeri diyakini akan  mengisi  financing  gap  antara  yang  dibutuhkan  sebuah  negara  dengan kemampuannya  menyediakan  sendiri,  sehingga  memungkinkan  setiap  negara  miskin untuk keluar dari jebakan kemiskinan dan mulai tumbuh perekonomiannya menggunakan kekuatannnya sendiri.

Rekan-rekan praktisi public health tentu maklum, pada masa lalu, saat ini, bahkan dimasa datang, hampir mayoritas masalah perikehidupan & sosial akan terkait aspek politik dan ekonomi. Pun masalah penyakit dan kesehatan, warna politik dan ekonomi sangat mendominasi hampir keseluruhan kebijakannya. Selain itu pendekatan multi sektoral menjadi sebuah keniscayaan. Jika kita perhatikan – dan sebagaian besar sektor baik secara langsung maupun tidak – sudah terlibat didalamnya, tujuan pembangunan millenium, walaupn aspek kesehatan menjadi fokus tujuan, bidang lain juga menjadi trend setter gerakan. Tentu jika kita tarik kembali ke belakang beberapa sektor ini menjadi sangat terkait dengan masalah kesehatan pada ujungnya. Untuk mengingatkan kembali, beberapa tujuan Millennium development tersebuat antara lain :

  1. Eradicate extreme poverty and hunger
  2. Achieve universal primary education
  3. Promote gender equality and empower women
  4. Reduce child mortality
  5. Improve maternal health
  6. Combat HIV/AIDS, malaria and other diseases
  7. Ensure environmental sustainability
  8. Develop a global partnership for development

MDGs IndonesiaElemen  lain  yang  diajukan  Sachs  dalam  upaya mengakhiri  jebakan  kemiskinan adalah  paket  menyeluruh  dalam  bentuk  bantuan  sandang,  pangan  dan  papan  yang dibutuhkan  oleh  rakyat miskin. Usulan  ini  didasari  pada  pertimbangan  ada  kekurangan investasi  yang  kritis  seperti  ketidak-mampuan  dalam  belanja  kesehatan  dan  kesuburan tanah. Lebih  jauh Sachs mengidentifikasikan  intervensi  ini sebaiknya merupakan bagian dari proyek-proyek dalam rangka Millenium Development Goals (MDG).

Salah satu hal yang menjadikan Jeffrey Sachs mampu meyakinkan para pengambil keputusan di PBB terkait MDGs, diantaranya beliau mempunyai range data pendapatan per kapita mayoritas negara selama 178 tahun (1820-1998) .. ! Dan yang menarik dari data ini, pendapatan perkapita penduduk pada wilayah-wilayah Eropa Barat, Eropa Timur, ex Uni Soviet,Canada, Amerika Latin, Jepang, Asia, dan Afrika pada tahun 1820 rata-rata hampir sama, tanpa kesenjangan yang berarti. Namun pada tahun 1998, sebagaimana kita ketahui, kesenjangan itu sangat serius. Maka mengacu pada pola itu, PBB dapat diyakinkan bahwa kemiskinan dapat diakhiri dengan pendekatan pola dan program yang tepat.

Menurut data yang diajukan Jeffrey Sachs, kemiskinan ekstrim hanya dialami oleh 17% penduduk bumi atau sekitar 1 milyar penduduk. Dengan masing-masing kondisi tingkat kemiskinan lain antara lain (situasi 2001), high income 17% , middle income 41%, med poverty 25%. Beberapa penyebab kemiskinan ini bisa dipilah seperti karena faktor poverty trap (Demographic, Environmental, Climate shocks, Disease, dan Price fluctuation). Juga karena faktor Economic failure, Fiscal trap, atau karena faktor Governance failure, Cultural barriers, Geopolitics.

Sementara penyebab kematian yang paling memungkinkan, terpilah menjadi beberapa faktor utama seperti  HIV/AIDS, Malaria and Tuberculosis, yang menjadi penyebab kematian terbesar. Penyebab kematian terbesar lainnya antara lain faktor maternal dan perinatal, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit infeksi saluran pernafasan, diarrhoea, gizi buruk, dan penyakit karena faktor konsumsi tembakau.

Sejauh menyangkut millennium development goals – salah satu pertanyaan yang sering berkecamuk di masyarakat khususnya praktisi kesehatan masyarakat, adalah masa depan kebijakan itu. Beberapa pertanyaan dan alternatif menarik dilontarkan para ahli, stakeholder, dan para praktisi terkait masa depan MDGs setelah tahun 2015, seperti haruskah memperkuat kembali MDGs (Recharged), Merombak Kebijakan MDGs dengan beberapa penguatan, MDGs Reinvented, atau mengakhirinya (MDGs R.I.P).

Pada alternatif pertama dipertimbnagkan untuk memperluas target yang belum terpenuhi pada tahun 2015. Sedangkan alternatif MGs Plus dipilih dengan alternatif program memperkuat kebijakan lokal, memilih penyakit-penyakit yang bersifat kedaruratan, pada isu pemerintahan, perdagangan internasional, pembanguann perdamaian, pada pembenahan sistem pendistribusian kekayaan yang lebih adil, usaha penciptaan lapangan kerja, dan lain-lain.

Jika alternatif yang dipilih berupa menciptakan kembali (MDGs Reinvented), maka beberapa alternatif yang dipilih antara lain penguatan pada kapabilitas masyarakat dan hak asasi manusia, peningkatan indeks kebahagiaan (?), dengan fokus program pada negara-negara miskin (saat ini fokus itu meliputi semua negara). Pilihan ini agaknya juga sedikit terinspirasi salah satu dalil para peneliti kualitaitf, dengn mensitir pendapat Albert Einstein (sang tokoh kuantitatif), bahwa “tidak semua yang dapat dihitung itu penting dan bermakna, dan tidak semua yang penting dan bermakna itu dapat dihitung”- Not everthing that counts can be counted, and not everything that can be counted counts”

Sedangkan yang berpendapat bahwa MDGs telah gagal dan mati “MDGs R.I.P”, dengan yakin mengatkan bahwa rencana terbaik itu adalah tidak punya rencana “the best plan is to have no plan”. Bahkan joke mereka  (William Easterly?) menjadikan MDG sebaagai “Most Distracting Gimmick” atau tipuan yang paling mengganggu (?).

Tantangan dan hambatan yang dihadapi untuk mencapai Millennium development goals antara lain sebagai berikut :
Program Pemberantasan HIV/AIDS, malaria and penyakit lainnya (MDG 6): Cakupan intervensi penyakit tuberculoasis dengan short course treatment baru mencapai  44%, sedangkan cakupan intervensi penyakit malaria dengan insectiside treated net dan Indoor residual spraying baru 2%, dengan cakupan pengobatan klinis masih pada  31%. Program intervensi pencegahan HIV/AIDS  masih pada cakupan  1-10, dengan cakupan perawatan palliative sebesar 6-10, sementara terapi antiretroviral aktif dibawah 5.

Tantangan untuk mencapai target reduce child mortality dan improve maternal health (target MDG 4 & 5), antara lain pada usaha menurunkan angka kematian anak dengan perawatan untuk anak cakupannya baru pada angka 15, sedangkan cakupan perawatan untuk bayi, cakupan baru mencapai 16. Beberapa  cakupan yang dicapai pada program penurunan kematian ibu coverage nya juga masih menunjukkan angka yang memprihatinkan, seperti pada indikator antenatal care, emergency med obstetri care, skilled attendance, dan penggunaan kontrasepsi pada keluarga berencana.

Sementara tantangan yang dihadapi untuk mencapai targer pembangunan millennium ini masih sedemikian serius, pengerahan sumber daya global terpolarisasi kedalam berbagai kepentingan. Beberapa pemain utama yang core bisnisnya jauh dari kesehatan, ikut bergerak masuk ranah kesehatan, sebut diantaranya Bill dan Melinda Gates Foundation dan World Bank. Bahkan kemampuan finansial dan sumber daya mereka jauh melampaui WHO. Disatu sisi kondisi ini dianggap menguntungkan, karena masalah kesehatan menjadi ranah semua pihak, namun dilain sisi aspek kontrol menjadi banyak dipertanyakan.

Seperti Bill & Melinda Gates Foundation, dengan mengusung teknologi untuk memperbaiki kesehatan global, mereka menggelontorkan donor amal terbesar abad 20 ini, dengan memberikan $750 juta selama lima tahun sebagai start up kepada Global Aliansi untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI). Juga  $100 milyar ke Initiative AIDS Vaccine International (IAVI). Mereka juga bergerak cepat pada program pemberantasan malaria kembali, Universal Health Coverage, dan lainnya.

Jika kita perhatikan tipologi pelaku kesehatan global ini,mereka dicirikan dengan beberapa karakteristik, seperti lembaga multilateral, lembaga keuangan global, lembaga pembangunan bilateral, lembaga konsultasi, lembaga teknis, kerjasama regional, yayasan, badan agama, LSM, gerakan sosial politik, perguruan tinggi, lembaga penelitian, asosiasi profesi, dan  individu.

Banyak dicatat orang, menjadi sebuah keniscayaan bahwa lembaga kesehatan global dibentuk dengan kompleksitas motif yang tinggi, yang jauh melampaui kebutuhan masalah kesehatan itu sendiri. Sementara proliferasi aktor menyebabkan terfragmentasi pengambilan keputusan yang representatif. Sedangkan semakin kuatnya beberapa tipologi pemain seperti yayasan dan sektor swasta, sangat menghambat dan memperburuk penetapan agenda yang demokratis. Kita wajar bertanya siapa berkepentingan apa, walaupun itu atas nama tujuan mulia peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Karena seluruh kepentingan ikut bermain, walaupun itu  atas nama vaksin, pemberdayaan masyarakat,kondom untuk semua, tamiflu, dan lain-lain dan lain-lain. So sebagai praktisi public health, just the best do it by your professionalism …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *