Respon Imun Vaksin

Faktor Yang Berpengaruh pada Respon Imun pada Vaksin

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit. Sementara pengertian Vaksin secara umum,  merupakan suatu  produk biologis terbuat dari kuman, komponen kuman (bakteri, virus atau riketsia), atau racun kuman (toxoid) yang telah dilemahkan atau dimatikan dan akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Di Indoensia kita akrab dengan jenis-jenis vaksi berikut :

  1. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine), berfungsi untuk memberikan kekebalan aktif terhadap poliomyelitis.
  2. Vaksin TT (Tetanus Toksoid), berfungsi untuk memberikan kekebalan aktif terhadap tetanus.
  3. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerine), berfungsi untuk memberikan kekebalan aktif terhadap tuberkulosa.
  4. Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus), berfungsi untuk memberikan kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis dan tetanus.
  5. Vaksin DT (Difteri dan Tetanus), berfungsi untuk memberikan kekebalan simultan terhadap difteri dan tetanus.
  6. Vaksin Campak, berfungsi untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
  7. Vaksin Hepatitis B, berfungsi untuk memberikan kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan     oleh virus hepatitis B.
  8. Vaksin DPT/HB, berfungsi untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis dan hepatitis B.

Mungkin sebagian dari kita, praktisi kesehatan masyarakat belum mengetahui atau sudah lupa detail seluk beluk vaksin ini, baik menyangkut bahan yang digunakan dalam memproduksi vaksin, mekanisme kerja vaksin, klasifikasi, dan lain sebagainya. Berdasarkan sifatnya, terdapat beberapa jenis vaksin, yaitu Live Attenuated Vaccine, Inactivated Vaccine, Vaksin Polisakarida, Vaksin Inaktif yang Berasal dari Sel Utuh, dan Vaksin Rekombinan. Seperti vaksin jenis live attenuated dan inactivated, yang mempunyai sifat khusus, sehingga hal ini menentukan dan berpengaruh terhadap bagaimana vaksin ini digunakan.

Ajuvan dan Respon Imun Vaksin

Ajuvan dan Respon Imun Vaksin

Live Attenuated Vaccine
Menurut Atkinson, dkk (2000), live attenuated merupakan vaksin yang dibuat dengan memodifikasi virus atau bakteri penyebab penyakit di laboratorium. Vaksin itu akan terus memperbanyak diri dan merangsang sistem imun serta menghasilkan kekebalan. Live attenuated vaccine adalah vaksin hidup yang merupakan turunan dari virus atau bakteri liar (wild), yang kemudian dilemahkan dalam laboratorium, biasanya dengan kultur ulang. Untuk menghasilkan reaksi kekebalan, live attenuated vaccine harus berkembang biak di dalam tubuh orang yang diimunisasi. Vaksin diberikan berupa dosis relatif kecil dari virus atau bakteri, yang kemudian berkembang biak di dalam tubuh sehingga cukup untuk merangsang suatu reaksi kekebalan. Semua faktor yang dapat merusak organisme di dalam vial, misalnya perubahan suhu dan sinar atau yang mempengaruhi berkembang biaknya organisme dalam tubuh, seperti antibodi yang ada dapat menyebabkan vaksin menjadi tidak efektif. Meskipun mikroorganisme dalam live attenuated vaccine berkembang biak, tetapi tidak menyebabkan sakit seperti pada virus atau bakteri “liar” (wild virus). Jika vaksin tersebut menyebabkan “sakit”, biasanya sakitnya ringan dan ini disebut sebagai efek samping.

Inactivated Vaccine
Inactivated vaksin pada pada dasarnya terbuat dari kuman, virus atau komponennya yang dibuat tidak aktif Vaksin inaktif dihasilkan dengan mengembangkan bakteri atau virus pada (pada umumnya dengan formalin), tanpa menghilangkan sifat antigennya. Secara keseluruhan, dosis antigen diberikan melalui suntikan dan vaksin jenis ini tidak akan menimbulkan sakit, bahkan pada penderita imunodefisiensi. Tidak seperti antigen hidup, inaktifasi antigen tidak dipengaruhi oleh antibodi yang beredar. Vaksin ter-inaktifasi selalu memerlukan dosis ulang. Pada umumnya, dosis pertama tidak menghasilkan kekebalan, hanya merupakan rangsangan pada sistem kekebalan. Perlindungan akan timbul setelah suntikan kedua atau ketiga.

Sifat vaksin attenuated dan inactivated berbeda sehingga berpengaruh pada bagaimana bagaimana vaksin ini digunakan. Menurut Atkinson, dkk (2000), reaksi kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin inaktif merupakan kekebalan humoral dan sedikit atau tidak ada kekebalan seluler. Titer antibodi yang dihasilkan oleh vaksin inaktif akan berkurang dengan berjalannya waktu. Sebagai akibatnya untuk beberapa vaksin inaktif diperlukan dosis tambahan untuk menambah titer antibodi (booster). Pada beberapa kasus, tidak dapat ditemukan antigen kritis yang dapat dipakai sebagai vaksin sehingga diperlukan vaksin yang berasal dari “sel utuh” (whole cell). Vaksin yang berasal dari sel utuh bakteri sangat reaktogenik. Ini disebabkan oleh reaksi komponen bakteri yang sebenarnya tidak diperlukan untuk memberikan perlindungan.

Vaksin Inaktif yang Berasal dari Sel Utuh: Vaksin inaktif yang berasal dari virus adalah vaksin-vaksin influenza, polio, rabies, dan hepatitis A. Sedangkan vaksin yang berasal dari bakteri adalah vaksin-vaksin pertusis, tifoid, kolera, dan pes. Contohnya vaksin fraksional sub unit adalah vaksin sub unit yang berasal dari virus hepatitis B, influenza, pertusis aselular, dan tifoid-vi. Vaksin difteria, tetanus, dan botulinum merupakan contoh vaksin toksoid.

Vaksin Polisakarida: Vaksin polisakarida adalah vaksin sub-unit yang inactivated dengan bentuknya yang unik terdiri atas rantai panjang molekul-molekul gula yang membentuk permukaan kapsul bakteri tertentu. Vaksin ini tersedia untuk tiga macam penyakit yaitu pneumokokus, meningokokus, dan haemophillus influenzae type b.

Vaksin Rekombinan: Vaksin dapat dibuat dengan rekayasa genetika, vaksin ini disebut vaksin DNA rekombinan. Saat ini ada dua vaksin rekombinan, yaitu vaksin hepatitis B yang dihasilkan dengan menyisipkan segmen dari gen virus hepatitis B ke dalam procaryotic pcells (Escherichia coli dan Bacillus subtilis), mammalian cells (CHO – Chinese Hamster Ovary), dan yeast cells (Saccharomyces cerevisia, Hansenula polymorpha). Produk vaksin hepatitis B baik dari ragi Saccharomyces cerevisiae maupun Hansenula polymorpha memberikan respon antibodi protektif. Terdapat tiga jenis vaksin rekombinan yang saat ini telah tersedia :

  1. Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen virus hepatitis B ke dalam gen sel ragi.
  2. Vaksin tifoid (Ty21a) adalah bakteri salmonella typhi yang secara genetik diubah sehingga tidak menyebabkan sakit.
  3. Tiga dari empat virus yang berada di dalam vaksin rotavirus hidup adalah rotavirus kera rhesus yang diubah secara genetik menghasilkan antigen rotavirus manusia apabila mereka mengalami replikasi.

Faktor yang Berpengaruh terhadap Respons Imun Vaksin.

Pada dasarkan, secara alami ketika dilahirkan, kita sudah memiliki kekebalan atau imunias terhadap berbagai jenis serangan atau kehadiran zat asing yang masuk dalam tubuh. Kekebalan ini merupakan imunitas yang diterima dari ibu yang mengandung kita, yang dikenal sebagai maternal antibody. Menurut Santos (1999), Maternal antibodi adalah kekebalan pasif pada bayi yang diterima dari ibunya. Kekebalan pasif ini memberi perlindungan terhadap penyakit infeksi, tetapi perlindungan yang ditimbulkan bersifat sementara. Kadar antibodi akan berkurang setelah beberapa minggu atau bulan, dan penerima tidak lagi kebal terhadap penyakit tersebut. Proses transformasi antibodi ini berlangsung melalui plasenta ketika usia kandungan pada 1 s/d 2 bulan di akhir masa kehamilan, sehingga seorang bayi akan mempunyai antibodi seperti ibunya. Maternal Antibodi yang diterima dari ibu mulai menurun pada usia 2 bulan dan terus berangsur-angsur menurun sampai empat bulan

Dengan semakin menurunnya maternal antibody pada bayi, kemudian diperlukan proses imunisasi. Kita  harus ingat tugas pokok dari vaksin, yaitu untuk menimbulkan kekebalan atau imunitas dari tubuh penerima vaksinasi.  Menurut Plotkin (2004), respons imun dapat dipengaruhi oleh maternal antibodi, sifat dan dosis antigen, jenis antigen, cara pemberian, jadwal pemberian, ajuvan, pengawet, serta antibiotik yang ada didalam vaksin. Juga pengaruh faktor penerima, seperti faktor genetik, jenis kelamin, umur, status gizi dan peyakit lain yang menyertai dan dapat mempengaruhi sistem kekebalan.

Sifat dan Dosis Antigen
Menurut Santos (1999), antigen yang ada di dalam vaksin membutuhkan suatu perhatian khusus pada saat penyimpanan karena vaksin merupakan sediaan biologis yang rentan terhadap perubahan temperatur lingkungan (thermolabil). Vaksin polio dan campak akan rusak jika temperatur terlalu tinggi atau terkena sinar matahari langsung sehingga untuk mempertahankan stabilitas vaksin, vaksin harus dihindarkan dari temperatur tinggi seperti diatas. Kerusakan juga dapat terjadi jika terlalu dingin atau beku seperti pada toksoid, (DTP, DT), Hib conjugate, hepatitis B, dan vaksin influensa. Jika vaksin kehilangan potensinya akibat panas, penampilan fisik vaksin tidak berubah. Jika vaksin kehilangan potensinya, untuk mengetahui potensinya harus dibantu dengan pemeriksaan laboratorium.

Sementara terkait dengan dosis antigen, jika dosis vaksin terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat mempengaruhi pada respons imun yang dihasilkan. Ketika dosis terlalu tinggi, maka akan menghambat respons imun yang diharapkan, sedangkan jika dosis terlalu rendah tidak akan merangsang sel-sel imunokompeten. Dosis diberikan harus tepat dan sesuai dengan hasil uji klinis sebelumnya. Oleh karena itu, dosis vaksin harus sesuai dengan dosis yang direkomendasikan oleh produsen.

Menurut Atkinson, dkk (2000), vaksin hidup biasanya menghasilkan imunitas yang bertahan lama hanya dengan pemberian dosis tunggal. Vaksin inaktifasi membutuhkan dosis multiple dan membutuhkan periodic boosting untuk mempertahankan imunitasnya. Vaksin hidup yang diberikan secara simultan, dosis pertama biasanya sudah memberikan perlindungan. Dosis tambahan diberikan untuk meyakinkan serokonversi. Vaksin inaktif, titer antibodi akan berkurang sampai di bawah tingkat kemampuan untuk melindungi setelah beberapa tahun. Gejala ini jelas terlihat pada tetanus dan difteri. Vaksin-vaksin tersebut diperlukan dosis tambahan berkala. Pemberian dosis tambahan akan menambah titer antibodi mencapai ambang pencegahan. Tidak semua vaksin memerlukan booster sepanjang hidupnya. Sebagai contoh, vaksin hepatitis B tidak memerlukan booster karena memori sistem imun yang menetap.

Berasarkan faktor jenis antigennya, vaksin hidup akan menimbulkan respons imun lebih baik dibandingkan vaksin mati atau yang diinaktivasi (killed atau inactivated) atau bagian (komponen) dari mikroorganisme. Walaupun vaksin hidup attenuated dapat menyebabkan penyakit, umumnya bersifat ringan jika dibandingkan dengan penyakit alamiah dan itu dianggap sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi. Respons imun terhadap vaksin hidup attenuated pada umumnya sama dengan yang diakibatkan oleh infeksi alamiah.

Sementara berdasarkan cara pemberian vaksin, dapat mempengaruhi respons yang timbul. Contohnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal di samping sistemik, sedangkan vaksin polio parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja. Sedangkan berdasarkan aspek frekuensi pemberian imunisasi, juga mempengaruhi respons imun yang terjadi. Seperti telah diketahui, respons imun sekunder menimbulkan sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksi, dan afinitasnya. Di samping frekuensi, jarak pemberian pun akan mempengaruhi respons imun yang terjadi. Jika pemberian vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibodi spesifik masih tinggi, antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibodi spesifik yang masih tinggi tersebut sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten (Atkinson.dkk, 2000) .

Faktor Ajuvan – Ajuvan adalah zat yang secara nonspesifik meningkatkan respons imun terhadap antigen. Ajuvan akan meningkatkan respons imun dengan mempertahankan antigen pada atau dekat dengan tempat suntikan. Vaksin pertusis adalah suatu ajuvan yang poten: ini terbukti bahwa pada hasil penelitian di negara lain, kombinasi antigen pertusis kedalam vaksin DT akan memperbaiki imunogenitas toksoid dibandingkan jika diberikan secara tunggal. Persyaratan ajuvan harus aman, stabil, dan mudah diperoleh serta mempunyai sasaran khusus sel sistem imun dengan spesifisitas berdasarkan asalnya dari peranan sebagai imunomodulator (Vogel dkk, 2004).

Menurut Aristegui, dkk (1997), banyaknya suntikan yang diberikan, dan kumulatif efek dari ajuvan akan menimbulkan abses steril, kemerahan, subcutaneous nodules, granolomatous inflamation dan kontak hipersensitiviti, yang diamati sebagai adanya reaksi lokal berupa kemerahan, pengerasan pada lokasi penyuntikan. National Vaccine Program Office (NVPO) pada workshop aluminium in vaccines di Puerto Rico, menurut FDA batas aluminium fosfat yang terdapat pada vaksin tidak melewati 0,85 mg/dosis.

Faktor bahan pengawet (preservative) pada vaksin juga berpengaruh pada respon imun ini. Menurut Vogel dkk (2004), bahan pengawet yang digunakan dalam vaksin, digunakan dalam jumlah yang sangat sedikit dapat mencegah kontaminasi bakteri dan mikro¬organisme lain pada vaksin, terutama vial multidosis yang telah dibuka. Pemberian vaksin kombinasi DTP/HB secara kumulatif akan mengurangi kadar zat pengawet yang terdapat di dalam vaksin

Faktor Antibiotik yang yang digunakan dalam vaksin berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Sebagai contoh, neomycin, kanamycin yang ada di dalam vaksin campak, dapat menimbulkan reaksi alergi sistemik. Reaksi alergi yang parah dapat membahayakan jiwa. Namun, hal ini jarang terjadi, diperkirakan kemungkinan dapat ditemukan satu kasus dari setengah juta dosis vaksin. Reaksi alergi dapat diperkecil dengan skrining terlebih dahulu melalui wawancara sebelum dilakukan imunisasi.

Faktor suntikan yang Aman
Salah satu kebijaksanaan program imunisasi di Indonesia, yaitu penggunaan satu jarum dan satu spuit steril untuk setiap suntikan. Kebijakan ini mulai diterapkan sejak tahun 2002, yaitu berupa penerapan kebijakan safety injection dan safe disposal management. Kebijakan ini pada dasarnya mengacu pada WHO/UNICEF/UNFPA joint statement on the use of autodisable syringe in immunization service tahun 1999. Sehingga mulai tahun 2003 Program Imunisasi rutin dan tambahan di Indonesia menggunakan alat suntik Autodisable syringe. Safety injection dan safe disposal management meliputi aman bagi penerima suntikan, aman bagi pelaku penyuntikan dan aman bagi lingkungan (Depkes RI, 2005).

Pada dasarnya Safety Injection, merupakan suatu  kondisi dalam hal mana sasaran imunisasi memperoleh kekebalan terhadap suatu penyakit, tidak ada dampak negatif berupa kecelakaan atau penularan penyakit pasca imunisasi pada sasaran maupun petugas, serta tidak menimbulkan kecelakaan atau penularan infeksi pada masyarakat atau lingkungan terkait.

Refference, antara lain :
Atkinson,W., et al. 2000. Epidemiology and Prevention of Vaccine Preventable Disease; Aristegui, J., et al. 1997. Immune response to a combined hepatitis B, diphtheria, tetanus, and whole-cell pertusis vaccine administrated to infant at 2,4 and 6 month of age. Vaccine. Elsevier Science; Santos, J.,1999. Safety and efficacy of combination vaccines improved protection and kinetics; Depkes RI. 2005. Pedoman Pemantauan dan Penanggulangan KIPI. Vogel, F.R et al 1999.Immunologic Adjuvans. Vaccines. Philadelphia

Incoming Search Terms:

2 thoughts on “Respon Imun Vaksin

  1. […] jaringan, skizontosida darah dan sporontosidal. Obat ini sangat praktis karena dapat diberi dalam dosis tunggal namun obat ini memiliki kelemahan karena mudah mengalami resistensi. Oleh karena itu […]

  2. […] bervariasi dari ringan, sedang sampai berat bahkan sampai menimbulkan kematian, tergantung dari dosis dan waktu perjalanan. Jenis penyakit yang ditimbulkan, pada umumnya merupakan penyakit non infeksi […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.