Vaksin Kombinasi

Proteksi dan Tantangan Vaksin Kombinasi

Sebagaimana kita ketahui, secara umum pengertian Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman (bakteri, virus atau riketsia), atau racun kuman (toxoid) yang telah dilemahkan atau dimatikan dan akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Sedangkan berbagai jenis Vaksin di Indonesia yang kita kenal antara lain ;

  1. Vaksin TT (Tetanus Toksoid), berfungsi untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tetanus.
  2. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerine), berfungsi untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberkulosa.
  3. Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus), berfungsi untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis dan tetanus.
  4. Vaksin DT (Difteri dan Tetanus), berfungsi  untuk pemberian kekebalan simultan terhadap difteri dan tetanus.
  5. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine), berfungsi  untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomyelitis.
  6. Vaksin Campak, berfungsi untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
  7. Vaksin Hepatitis B, berfungsi  untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B.
  8. Vaksin DPT/HB, berfungsi  untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis dan hepatitis B.

Sedangkan penggunaan vaksin kombinasi, telah mulai diteliti sejak lama, dengan mencoba memberikan beberapa jenis vaksin secara bersama-sama pada satu saat untuk mengurangi jumlah suntikan. Salah satu jenis vaksi kombinasi yang kita kenal adalah vaksin DTP.

Pengertian Vaksin KombinasiMenurut Decker (2004), vaksin DTP dikembangkan pada tahun 1943. Komponen antigennya sudah sejak lama terpisah, yaitu lisensi vaksin pertusis di Massachusetts Public Health Biological Laboratories pada tahun 1914. Kemudian campuran toksin difteri dan antitoksin juga pada tahun tersebut. Sementara toksoid difteri aluminium presipitated mendapat lisensi pada tahun 1926, sedangkan tetanus terabsorbsi pada tahun 1937.

Vaksin pertusis merupakan ajuvan yang potent, kombinasi dengan ketiga antigen pada DTP sebenarnya akan memperbaiki imunogenisitas toksoid jika dibandingkan dengan komponen-komponen tersebut yang diberikan tersendiri. Adsorpsi vaksin dengan aluminium lebih lanjut akan memperbaiki imunogenisitas dan sementara akan menurunkan efek samping yang berkaitan dengan vaksin pertusis.

Menurut Decker (1999), vaksin kombinasi telah lama dikenal, yaitu sejak tahun 1945 sebagai satu pilar baik untuk program imunisasi anak maupun dewasa. Vaksin kombinasi yang telah banyak dikenal yaitu difteri dan toksoid, yang berdiri sendiri (DT, Td) atau dengan kombinasi vaksin pertusis (DTP), vaksin campak, dan vaksin rubela (MR) maupun berkombinasi dengan vaksin mumps (MMR). Pada saat ini komponen-komponen baru untuk vaksin kombinasi adalah Conjugate Haemophilus influenzae type b (Hib), Pertusis acellular (aP), antigen hepatitis B (HB). Perkembangan mutakhir mengarah kepada vaksin kombinasi yang akan mengandung lebih banyak antigen dengan sasaran akhir mampu mengombinasi semua antigen yang dianjurkan untuk imunisasi rutin menjadi suatu produk yang multivalen tunggal. Sejak diperkenalkannya vaksin kombinasi, menurut Decker (1999), berakibat akan pada penataan jadwal imunisasi yang semakin baik.

Bertambahnya jumlah vaksin-vaksin yang efektif untuk digunakan pada bayi dan anak-anak ternyata dapat menimbulkan kesulitan baik logistik maupun pembiayaan yang cukup besar. Vaksin yang diberikan dengan suntikan secara terpisah dapat menyebabkan biaya mahal di samping membuat kurang nyaman pada pasien dan orang tua. Sementara merancang kembali jadwal imunisasi tambahan akan meningkatkan biaya, disamping beban terhadap petugas imunisasi, dan akan membingungkan pelaksana program imunisasi. Penyimpanan dan pengiriman vaksin yang beraneka jenis antigen akan memungkinkan terjadinya kesalahan. Masalah ini telah menjadi perhatian internasional pada saat diluncurkannya Children Vaccine Initiative (CVI) dalam World Summit for Children di New York tahun 1990. Kemudian CVI mengusulkan, bahwa vaksin ideal adalah vaksin yang dapat menggabungkan semua antigen menjadi satu dosis tunggal.

Menurut WHO (2004), penggabungan berbagai antigen multiple menjadi satu injeksi membutuhkan bukti-bukti pada uji klinik , yaitu bahwa kombinasi tersebut secara materi tidak akan mengurangi keamanan atau imunogenisitas dari komponen vaksin dan efikasinya harus dipertahankan. Sementara menurut Decker (2004), berdasarkan rekomendaasi The Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), the American Academy of Pediatrics (AAP) dan the American Academy of Family Physicians (AAFP), bahwa lebih baik mempergunakan vaksin kombinasi yang telah dikemas dari pabrik daripada memberikan dua jenis vaksin monovalen yang diberikan secara terpisah pada saat bersamaan.

Faktor-faktor lain yang akan mengurangi respons antibodi terhadap komponen lainnya pada kombinasi tersebut kemungkinan oleh adanya interferensi imunologis yang terjadi meskipun antigen tersebut disuntikkan pada tempat yang berbeda pada satu kunjungan, atau disebabkan oleh inaktivasi kimia atau fisik yang mungkin terjadi jika antigen tersebut dikombinasikan dalam bentuk suntikan tunggal.

Proteksi dan Respon Imun Vaksin Kombinasi
Untuk beberapa jenis antigen, hasil penelitian terdahulu mengenai efikasi vaksin dan imunogenitas telah memantapkan adanya korelasi antar kadar antibodi proteksi penyakit. Aspek korelasi proteksi dengan antigen, telah teridentifikasi untuk beberapa antigen vaksin yang umum, antara lain, difteri toksoid, tetanus toksoid, virus hepatitis B, Hib, virus campak, dan virus polio.

Beberapa vaksin yang dikombinasi, akan menyebabkan adanya perubahan respons imun terhadap vaksin. Menurut Decker (2004), ajuvan merupakan bahan yang dapat meningkatkan respons antibodi, bahan yang sering dipakai dalam pembuatan vaksin sebagai upaya untuk memberikan kekebalan yang optimal. Kombinasi satu vaksin yang biasa diberikan mengandung ajuvan dengan vaksin lain, tanpa ajuvan akan menyebabkan berkurangnya imunogenisitas daripada vaksin yang mengandung ajuvan.

Respons imun terhadap vaksin secara umum diperoleh dengan cara mengukur antibodi humoral terhadap antigen vaksin tersebut. Antibodi akan mengenali epitop protein atau pada antigen polisakarida. Beberapa bakteri patogen yang dilindungi oleh kapsul polisakarida yang bersifat antifagositik. Pembentukan antibodi terhadap kapsul polisakarida diperlukan untuk opsonisasi optimal dan kadar antibodi antikapsuler yang mempunyai korelasi dengan proteksi terhadap penyakitnya. Sebagian besar polisakarida kapsuler adalah imunogen yang lemah sehingga tidak dapat memberikan respons imun yang optimal (Decker, 2004).

Pada vaksin kombinasi DTP/HB, kinetic respons antibodi dari komponen hepatitis B diduga lebih baik jika diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi, dengan komponen P sebagai ajuvan.

Refference:

  • Decker, M., Edwards, K.M, 2004. Combination Vaccines. Vaccines. W.B. Saunders.
  • WHO. 2004. Immunization in Practice, A pratical guide for health staff.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.